Jakarta, Lahatsatu.com – Singapore Airlines (SIA) Group menunjukkan keseriusannya dalam mewujudkan penerbangan berkelanjutan dengan serangkaian investasi hijau yang ambisius. Langkah ini diambil sebagai upaya untuk mengurangi jejak karbon dan mencapai target nol emisi (net zero emission) pada tahun 2050.
SIA Group menyadari bahwa industri penerbangan memiliki peran penting dalam mengatasi perubahan iklim. Oleh karena itu, mereka memfokuskan strategi pada pemanfaatan Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau bahan bakar penerbangan berkelanjutan. SAF dianggap sebagai solusi paling efektif saat ini karena mampu mengurangi emisi gas rumah kaca hingga 80% selama siklus hidupnya.

Dalam setahun terakhir, SIA Group telah menjalin kemitraan strategis dengan berbagai perusahaan teknologi iklim global, seperti Aether Fuels, Neste, dan World Energy. Kolaborasi ini bertujuan untuk meningkatkan penggunaan SAF hingga 5% pada tahun 2030, sebagai langkah awal menuju target nol emisi karbon pada tahun 2050.
Salah satu langkah visioner SIA Group adalah penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dengan Aether Fuels, perusahaan teknologi iklim yang didukung oleh Temasek. Kemitraan ini merupakan investasi jangka panjang dalam memperkuat ekosistem teknologi bahan baku bio-avtur. SIA Group berkomitmen untuk membeli SAF murni dari Aether Fuels selama lima tahun sejak produksi komersial dimulai, dengan opsi perpanjangan lima tahun berikutnya.
"Melalui kolaborasi dengan mitra ekosistem yang sejalan dengan kami seperti Aether, kami bertujuan untuk mempercepat dan meningkatkan adopsi SAF dalam operasional penerbangan kami, serta membangun fondasi bagi masa depan perjalanan udara yang lebih berkelanjutan," ujar Chief Sustainability Officer Singapore Airlines, Lee Wen Fen.
Aether Fuels menggunakan teknologi Aether Aurora™ yang memungkinkan produksi SAF dari bahan baku karbon limbah secara lebih efisien. Teknologi ini mampu mengurangi biaya modal, meningkatkan efisiensi produksi, dan menghasilkan SAF yang lebih banyak dibandingkan metode konvensional.
Selain itu, SIA Group juga bekerja sama dengan Neste untuk mengakuisisi 1.000 ton SAF murni yang diproduksi di kilang Neste di Singapura. Langkah ini memperkuat ketahanan rantai pasok energi hijau di Singapura dan menjadikan negara tersebut sebagai pusat aviasi berkelanjutan di Asia-Pasifik.
SIA Group juga menggandeng World Energy, produsen SAF asal Amerika Serikat, menggunakan model Book & Claim Chain of Custody. Melalui model ini, SIA Group membeli sekitar 2.000 ton SAF dalam bentuk sertifikat pengurangan emisi.
Secara total, transaksi dengan Neste dan World Energy pada kuartal pertama 2025 diperkirakan akan memangkas lebih dari 9.500 ton emisi karbon dioksida.
SIA Group juga aktif berpartisipasi dalam kampanye Green Fuel Forward yang bertujuan untuk memacu permintaan SAF di tingkat regional.
Terbaru, Singapore Airlines dikabarkan tertarik untuk memanfaatkan minyak jelantah sisa dapur dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Indonesia sebagai bahan baku bio-avtur.
Langkah-langkah konkret yang diambil SIA Group menunjukkan komitmen mereka terhadap keberlanjutan dan memberikan pesan kuat kepada dunia bahwa perjalanan udara yang mewah dan efisien dapat berjalan selaras dengan kelestarian bumi.




