Jakarta, 18 November – Aliran investasi modal ventura tengah bergeser. Bukan lagi startup teknologi yang menjadi incaran, melainkan sektor ritel yang kini menarik perhatian para investor. Hal ini terlihat dari pernyataan beberapa perusahaan pendanaan terkemuka seperti Init-6, OCBC Ventura, dan Trihill Capital yang melihat potensi jangka panjang yang signifikan di sektor ini.
Rexi Christopher, Venture Partner dari Init-6, mengatakan, "Ini adalah waktu yang menarik bagi ritel. Perubahannya cukup cepat, apalagi dengan masuknya media sosial." Pernyataan ini disampaikan dalam acara Media Gathering di Jakarta, Senin (18/11). Menurutnya, munculnya banyak merek lokal dalam dua tahun terakhir, khususnya di sektor kosmetik, kecantikan, dan kesehatan, menjadi salah satu indikator kuatnya sektor ritel. Init-6 sendiri telah berinvestasi di merek tas lokal Torch dan produk pembalut organik UMA Women, dengan target Torch untuk mencapai 50 gerai pada 2029 dan ekspansi ke pasar internasional.

Dyah Trisnawaty, Portfolio and Advisory Head OCBC Ventura, menambahkan bahwa demografi Indonesia yang didominasi generasi milenial dan Gen Z menjadi pendorong utama pertumbuhan ritel. "Jadi kami sangat optimis, mulai dari makanan dan minuman serta sektor kesehatan, karena konsumennya adalah milenial dan Gen Z," ujarnya. OCBC Ventura telah berinvestasi di beberapa bisnis ritel, termasuk gerai gelato Vilo, pusat kebugaran FTL Fitness, dan gerai kopi Kopitagram.
Meskipun demikian, Valerianus Ian Sulaiman, VP Investments Trihill Capital, mengingatkan bahwa tren ini mungkin tidak akan berlangsung selamanya. Ia mengamati bahwa generasi milenial dan Gen Z cenderung lebih mementingkan kepuasan jangka panjang, berbeda dengan generasi sebelumnya. Contohnya, tren menabung untuk membeli rumah masih relatif rendah, dengan generasi muda lebih memilih menyewa. "Tren-tren seperti ini yang harus cepat diobservasi dan dipahami," tegas Ian. Trihill Capital sendiri telah berinvestasi di gerai makanan Se’Indonesia dan produk bayi hiboo baby.
Dyah Trisnawaty juga memberikan panduan bagi perusahaan ritel rintisan yang ingin mencari pendanaan. Ia membagi tiga kategori pendanaan berdasarkan kondisi perusahaan: pinjaman bank untuk perusahaan yang sudah mapan dan memiliki aset; venture debt untuk perusahaan yang menguntungkan namun asetnya terbatas; dan ekuitas dari pemodal ventura untuk perusahaan yang masih berkembang dan belum menguntungkan. "Tergantung kebutuhan masing-masing," tutupnya. Dengan porsi konsumsi domestik yang mencapai 57% dari Produk Domestik Bruto Indonesia pada 2024, sektor ritel memang tampak menjadi lahan subur bagi investasi di masa mendatang.




























