lahatsatu.com – Sebuah pertemuan bersejarah baru saja terukir di Istana Merdeka Jakarta, saat Presiden Prabowo Subianto menyambut hangat Presiden Belarusia Aleksandr Lukashenko. Keduanya bertekad mengukuhkan kerja sama bilateral yang lebih erat, membuka lembaran baru potensi kolaborasi yang menjanjikan bagi kedua negara.
Dalam keterangan pers bersama, Presiden Prabowo menegaskan komitmen Indonesia untuk memperkuat sektor pertanian modern. Fokus utama mencakup penyediaan bahan baku pupuk, alat canggih, hingga teknologi pertanian mutakhir. Ia menyoroti bagaimana kedua negara memiliki potensi saling melengkapi, terutama dalam menjaga ketahanan pangan global melalui inovasi agroindustri.

Tak hanya itu, Indonesia juga mengajak Belarusia untuk terlibat aktif dalam modernisasi industri manufaktur, otomotif, dan kendaraan berat. Prabowo secara khusus menawarkan peluang investasi serta pembentukan perusahaan patungan atau joint venture bagi para pelaku industri Belarusia di Tanah Air, demi mengakselerasi pertumbuhan sektor strategis ini.
Menanggapi tawaran tersebut, Presiden Lukashenko menyatakan kesiapan penuh negaranya. Ia menegaskan Belarusia siap memasok pupuk dalam skala lebih besar, alat-alat pertanian, dan teknologi relevan lainnya. Lukashenko juga mendorong sektor bisnis Belarusia untuk berpartisipasi aktif dalam pengembangan industri di Indonesia, termasuk berbagi informasi dan keahlian, serta membuka pintu bagi perusahaan Indonesia untuk membentuk usaha patungan.
Sebelum pertemuan tingkat tinggi ini, sebuah forum bisnis telah digelar di Jakarta, mempertemukan pengusaha dari kedua negara. Menteri Luar Negeri Sugiono melaporkan hasil gemilang dari forum tersebut, yakni komitmen kerja sama senilai fantastis US$500 juta. Kesepakatan ini diperkuat dengan penandatanganan tujuh Nota Kesepahaman (MoU) yang meliputi berbagai bidang vital.
Tujuh MoU tersebut mencakup kerja sama di sektor industri, kebudayaan, jasa keuangan antara Otoritas Jasa Keuangan dan Bank Nasional Belarus, kesehatan, riset dan inovasi antara Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dengan Akademi Ilmu Pengetahuan Nasional Belarus, pertukaran intelijen terkait pencucian uang dan pendanaan terorisme antara PPATK dengan Komite Kontrol Negara Belarus, serta akreditasi nasional.
Sebagai penutup, kedua pemimpin juga menyepakati sebuah peta jalan pengembangan kerja sama




