lahatsatu.com – Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji memberikan tantangan besar kepada para pelaku industri pengolahan susu nasional untuk tidak hanya terpaku pada produk konvensional. Dalam kunjungan kerjanya ke fasilitas produksi PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (Cimory) di Sentul, Kabupaten Bogor, Sarmuji mendorong adanya diversifikasi produk yang lebih luas, terutama pada produk turunan susu yang memiliki nilai tambah tinggi.
Sarmuji menyoroti potensi pasar yang sangat masif jika industri mampu menciptakan produk yang sesuai dengan lidah masyarakat lokal. Salah satu poin utama yang ia tekankan adalah pengembangan keju dengan cita rasa khas Nusantara. Menurutnya, selama ini pasar keju masih didominasi oleh produk dengan profil rasa Barat, sehingga peluang untuk menciptakan "keju ala Indonesia" masih terbuka lebar.

"Kami menantang industri untuk memproduksi lebih banyak produk turunan susu, seperti es krim dan keju yang memiliki karakteristik khas Indonesia. Jika inovasi ini berhasil, pasarnya akan sangat terbuka luas karena sesuai dengan selera masyarakat kita," ujar Sarmuji dalam keterangan resminya. Ia bahkan memberikan tenggat waktu satu tahun bagi pelaku industri untuk merealisasikan inovasi tersebut.
Selain masalah diversifikasi, Menperin juga menyoroti tingkat utilisasi industri nasional yang dinilai belum mencapai titik maksimal. Saat ini, angka utilisasi yang berada di kisaran 70 persen dianggap masih perlu didorong hingga mencapai angka 80 hingga 85 persen. Dengan optimalisasi kapasitas produksi yang ada, kontribusi sektor manufaktur terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional diharapkan dapat melonjak signifikan.
Untuk mendukung hal tersebut, pemerintah melalui Kementerian Perindustrian berkomitmen menjamin ketersediaan bahan baku dengan harga yang kompetitif. Sarmuji menegaskan bahwa pemerintah akan memberikan relaksasi atau kemudahan impor bagi bahan baku yang memang belum bisa dipenuhi oleh produsen lokal. Namun, ia memberikan catatan tegas bahwa penggunaan bahan baku dalam negeri harus tetap menjadi prioritas utama.
Menanggapi tantangan tersebut, Direktur Manufacturing PT Cisarua Mountain Dairy Tbk, Pamungkas Bayu Triprasetyo, menyatakan kesiapannya untuk terus berinovasi. Ia menegaskan bahwa Cimory tidak akan berhenti pada produk susu cair atau yoghurt saja, melainkan akan mulai mengkaji pengembangan produk turunan lainnya.
Terkait pemenuhan bahan baku, Pamungkas menjelaskan bahwa saat ini sekitar 20 hingga 30 persen kebutuhan susu perusahaan telah diserap dari peternak lokal di wilayah Jawa Barat dan Jawa Timur. Meski demikian, keterbatasan pasokan susu segar nasional membuat perusahaan masih harus mengandalkan susu bubuk impor untuk memenuhi kebutuhan produksi skala besar.
Sektor makanan dan minuman sendiri tetap menjadi tulang punggung industri manufaktur Indonesia. Data menunjukkan bahwa pada semester I tahun 2026, subsektor ini tumbuh sebesar 6,77 persen dan menyumbang 41,86 persen terhadap PDB industri pengolahan nonmigas. Pertumbuhan ini juga didorong oleh arus investasi yang kuat, dengan realisasi mencapai Rp 47,74 triliun yang terdiri dari modal asing maupun dalam negeri.




