lahatsatu.com – Pasar modal Indonesia kembali menunjukkan geliat positif dengan adanya rencana ekspansi besar-besaran dari sejumlah emiten baru. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan bahwa saat ini terdapat lima perusahaan yang tengah mengantre untuk melakukan penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO). Langkah strategis ini diprediksi akan membawa angin segar bagi likuiditas pasar modal tanah air.
Berdasarkan data terbaru yang dihimpun, total nilai emisi yang akan diraup oleh kelima perusahaan tersebut mencapai angka yang sangat fantastis, yakni Rp 2,028 triliun. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, mengonfirmasi hal tersebut saat ditemui di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta. Menurutnya, kehadiran emiten-emiten baru ini akan memperkuat struktur pasar modal nasional.

"Ada lima perusahaan yang sedang dalam proses, dengan perkiraan total emisi mencapai Rp 2,028 triliun," ungkap Hasan kepada awak media.
Hasan juga memaparkan bahwa hingga saat ini, realisasi penghimpunan dana di pasar modal telah menunjukkan angka yang sangat signifikan, yakni menyentuh Rp 169,5 triliun. Tidak hanya itu, masih terdapat antrean panjang atau pipeline penawaran umum untuk berbagai instrumen investasi lainnya yang nilainya mencapai Rp 27,61 triliun. Hal ini menunjukkan bahwa minat korporasi untuk mencari pendanaan melalui pasar modal masih sangat tinggi.
Menjelang penutupan tahun, OJK optimis akan ada tambahan suntikan dana segar ke pasar modal. Hasan memperkirakan potensi tambahan penghimpunan dana sekitar Rp 24 triliun hingga akhir tahun nanti. Dana tersebut diproyeksikan berasal dari penerbitan efek bersifat utang serta sukuk yang akan melakukan refinancing atau pendanaan kembali. Dengan adanya potensi tersebut, OJK berharap target penghimpunan dana tahunan sebesar Rp 250 triliun dapat tercapai dengan maksimal.
Di sisi lain, fenomena menarik terjadi pada sisi investor. Meski pasar modal Indonesia kerap dihantam berbagai dinamika ekonomi global dan tekanan volatilitas, minat masyarakat untuk berinvestasi justru melonjak tajam. Hal ini dibuktikan dengan pertumbuhan jumlah investor ritel domestik yang sangat impresif.
Jika pada akhir tahun lalu jumlah investor baru menembus angka 20 juta, kini jumlah investor yang memiliki Single Investor Identification (SID) telah melonjak hingga 32,17 juta. Artinya, terjadi penambahan lebih dari 12 juta investor baru dalam kurun waktu satu tahun.
"Kenaikan ini sangat impresif. Dalam satu tahun, jumlah investor naik lebih dari 12 juta atau tumbuh sekitar 57,96% hingga saat ini," jelas Hasan dengan nada optimis. Pertumbuhan basis investor ini menjadi sinyal kuat bahwa literasi keuangan masyarakat Indonesia semakin meningkat dan kepercayaan terhadap instrumen pasar modal semakin solid.




