lahatsatu.com – PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) sukses mencatatkan performa keuangan yang sangat impresif sepanjang sembilan bulan pertama tahun 2026. Perusahaan pengembang properti raksasa ini berhasil membukukan laba bersih setelah pajak (NPAT) mencapai angka fantastis sebesar Rp 1,24 triliun hingga periode yang berakhir pada 30 September 2026.
Keberhasilan ini tidak lepas dari strategi penjualan yang agresif namun tepat sasaran. LPKR melaporkan telah mengantongi angka pra penjualan (presales) sebesar Rp 5,49 triliun. Jika dikalkulasi, angka tersebut sudah menyentuh 91 persen dari total target tahunan yang ditetapkan perusahaan untuk sepanjang tahun 2026.

CEO Lippo Karawaci, John Riady, mengungkapkan bahwa pencapaian ini merupakan hasil dari momentum pertumbuhan bisnis properti yang tetap terjaga dengan baik. Menurutnya, permintaan pasar terhadap hunian tapak (landed house) di berbagai proyek kota mandiri milik perseroan masih sangat tinggi.
"Kami sangat menyambut baik momentum pertumbuhan yang terus terjaga ini. Permintaan pasar saat ini masih didominasi oleh hunian tapak, terutama pada segmen menengah dan terjangkau yang memang menjadi pilar utama strategi bisnis kami," ujar John Riady dalam keterangan resminya.
Menariknya, segmen hunian terjangkau dan menengah ini memberikan kontribusi masif sebesar 75 persen terhadap total pra penjualan. Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas konsumen saat ini adalah para pembeli rumah pertama (first-time homebuyers) serta masyarakat yang membeli rumah untuk kebutuhan tempat tinggal pribadi (end-users).
Salah satu pendorong utama kesuksesan ini adalah peluncuran proyek Hunian Warisan Bangsa di Serang. Proyek ini menawarkan berbagai tipe hunian dengan rentang harga yang sangat kompetitif, yakni mulai dari Rp 101 juta hingga Rp 262 juta. Strategi harga yang ekonomis ini terbukti ampuh menarik minat pasar luas, di mana sebanyak 71 persen dari total penjualan dilakukan melalui fasilitas Kredit Pemilikan Rumah (KPR).
Secara lebih rinci, pendapatan perusahaan tercatat sebesar Rp 5,37 triliun dengan EBITDA mencapai Rp 1,11 triliun. Di sisi lain, posisi kas perusahaan juga berada dalam kondisi yang sangat sehat dengan saldo mencapai Rp 1,37 triliun pada akhir periode pelaporan.
Selain sektor properti, segmen gaya hidup milik LPKR juga menunjukkan performa yang solid. Pendapatan dari sektor ini menyentuh Rp 922 miliar dengan laba bersih sebesar Rp 220 miliar, meningkat dibandingkan periode sebelumnya. Meskipun tingkat okupansi hotel mengalami sedikit penurunan ke angka 58 persen, namun sektor ritel justru menunjukkan tren positif dengan kenaikan kunjungan ke pusat perbelanjaan sebesar 1 persen secara tahunan.
Menatap masa depan, LPKR berkomitmen untuk terus fokus pada penyelesaian proyek-proyek kota mandiri yang sedang berjalan. Perusahaan juga akan tetap disiplin dalam melakukan alokasi modal serta pengelolaan operasional guna menjaga stabilitas pertumbuhan jangka panjang.




