lahatsatu.com – Dunia peternakan rakyat saat ini tengah dihantam badai krisis yang sangat hebat. Para peternak ayam mandiri kini berada dalam posisi yang sangat sulit karena harga jual ayam hidup (live bird) di tingkat kandang terus merosot tajam hingga jauh di bawah biaya produksi. Kondisi ini memicu kerugian beruntun yang mengancam keberlangsungan hidup para pelaku usaha kecil di sektor ini.
Koordinator Perhimpunan Peternak Rakyat Mandiri Indonesia (PERMINDO) Jawa Timur, Barry Saripudin, mengungkapkan bahwa harga ayam hidup saat ini hanya berkisar antara Rp 17.000 hingga Rp 18.000 per kilogram. Angka ini sudah bertahan di level rendah selama hampir tiga minggu terakhir. Padahal, biaya pokok produksi (HPP) yang harus ditanggung peternak mencapai angka Rp 22.500 hingga Rp 23.000 per kilogram.

"Dengan selisih harga yang sangat lebar, peternak menderita kerugian sekitar Rp 5.500 sampai Rp 6.000 untuk setiap kilogram ayam yang terjual. Kami benar-benar berada di ambang kebangkrutan," ujar Barry dalam keterangannya, Kamis (5/11/2026).
Beban peternak semakin berat akibat melonjaknya biaya pakan yang menjadi komponen produksi terbesar. Saat ini, harga pakan mencapai Rp 10.000 per kilogram di tingkat kandang. Selain itu, harga jagung yang menyentuh Rp 8.000 per kilogram serta harga soybean meal (SBM) impor yang mahal turut memperparah keadaan. Ketidakseimbangan antara pasokan yang melimpah dengan daya beli masyarakat yang melemah membuat harga terus tertekan.
Senada dengan Barry, Agus Sunarto dari Peternak Curug Maju Bersama menyebutkan bahwa kelebihan produksi dan melemahnya permintaan ekonomi menjadi pemicu utama. Ia mencatat harga bibit ayam atau DOC pun sudah melambung di atas Rp 8.800 per ekor, yang semakin mencekik margin keuntungan peternak.
Menanggapi situasi kritis ini, Pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) dan Badan Pangan Nasional (Bapanas) mulai mengambil langkah intervensi. Salah satu strategi utamanya adalah melalui program stabilisasi harga telur ayam ras dengan melibatkan BUMN pangan, yakni ID FOOD dan Perum Bulog.
Pemerintah telah mengalokasikan dana sebesar Rp 30 miliar untuk menyerap hasil produksi peternak, di mana masing-masing BUMN mendapatkan porsi Rp 15 miliar. Program ini diprioritaskan bagi peternak skala mikro dan kecil yang tergabung dalam koperasi atau asosiasi, terutama di wilayah yang mengalami tekanan harga paling parah.
Direktur Utama ID FOOD, Ghimoyo, menjelaskan bahwa program penyerapan ini telah berjalan sejak akhir Oktober 2026. Hingga awal November, ID FOOD tercatat telah menyerap sekitar 153,6 ton telur ayam dengan nilai transaksi mencapai Rp 3,433 miliar.
"Kami berupaya memberikan kepastian pasar bagi peternak. Penyerapan akan terus dilakukan secara bertahap dengan target penyelesaian pada November 2026," kata Ghimoyo.
Fokus penyerapan diarahkan pada sentra produksi di Pulau Jawa, Lampung, dan Sulawesi Selatan dengan harga pembelian minimal Rp 24.000 per kilogram. Selain penyerapan, pemerintah juga menekankan pentingnya kelancaran distribusi mengingat telur adalah komoditas yang memiliki masa simpan terbatas. Sinergi lintas lembaga diharapkan mampu menciptakan ekosistem pangan yang lebih stabil dan menyelamatkan peternak rakyat dari kehancuran ekonomi.




