Harga Beras Meroket dari Penggilingan ke Warung

lahatsatu.com – Kabar kurang menyenangkan datang bagi masyarakat Indonesia, terutama bagi para ibu rumah tangga yang harus mengatur anggaran belanja harian. Harga komoditas beras yang

Agus sujarwo

Harga Beras Meroket dari Penggilingan ke Warung

lahatsatu.com – Kabar kurang menyenangkan datang bagi masyarakat Indonesia, terutama bagi para ibu rumah tangga yang harus mengatur anggaran belanja harian. Harga komoditas beras yang merupakan kebutuhan pokok utama dilaporkan mengalami tren kenaikan di berbagai lini distribusi. Berdasarkan data terbaru, lonjakan harga ini tidak hanya terjadi di satu titik, melainkan merambat dari tingkat penggilingan, pedagang grosir, hingga sampai ke tangan konsumen di tingkat eceran.

Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan bahwa fenomena kenaikan harga ini sudah mulai terasa sejak Oktober 2026. Kenaikan ini terjadi secara berantai, yang menunjukkan adanya tekanan harga sejak dari hulu atau produsen. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa secara keseluruhan, harga beras di tingkat penggilingan mengalami kenaikan rata-rata sebesar 0,26 persen secara bulanan (month to month). Jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya (year on year), kenaikannya mencapai angka yang cukup signifikan, yakni 6,89 persen.

Harga Beras Meroket dari Penggilingan ke Warung
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Jika dibedah lebih dalam, kenaikan harga di tingkat penggilingan terlihat dari pergeseran harga yang semula Rp 14.329 per kilogram pada bulan September 2026 menjadi Rp 14.365 per kilogram pada Oktober 2026. Meski terlihat kecil secara nominal, tren kenaikan ini menjadi sinyal kuat adanya dinamika harga di tingkat produksi. Dampak ini kemudian merambat ke pedagang grosir, di mana harga rata-rata naik menjadi Rp 14.994 per kilogram dari sebelumnya yang berada di level Rp 14.992 per kilogram.

Efek domino ini akhirnya dirasakan langsung oleh masyarakat luas di tingkat eceran. Harga beras di pasar maupun warung-warung kecil tercatat naik dari Rp 15.752 per kilogram pada September menjadi Rp 15.765 per kilogram pada Oktober 2026. Secara tahunan, inflasi di tingkat eceran mencapai 4,10 persen. Hal ini tentu menjadi tantulah bagi daya beli masyarakat, terutama bagi kelompok ekonomi menengah ke bawah.

Menariknya, kenaikan ini juga terjadi pada berbagai jenis kualitas beras. Berdasarkan data BPS, beras kualitas premium mengalami lonjakan harga yang cukup tajam secara tahunan, yakni mencapai 11,32 persen. Sementara itu, untuk beras kualitas medium, kenaikan tahunan tercatat sebesar 5,57 persen. Hal ini menunjukkan bahwa baik beras kelas atas maupun kelas menengah mengalami tekanan harga yang nyata.

Ateng menegaskan bahwa angka-angka yang dirilis merupakan rata-rata nasional yang mencakup berbagai jenis kualitas beras dan mencakup seluruh wilayah di Indonesia. Fenomena kenaikan harga yang terjadi secara serentak di berbagai level distribusi ini menuntut perhatian serius dari pemerintah agar stabilitas harga pangan tetap terjaga dan tidak semakin membebani masyarakat luas.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Klik Laporkan. Terima Kasih
Laporkan

Tags

Related Post

Tinggalkan komentar