lahatsatu.com – Kondisi pasar modal Indonesia kembali menunjukkan tren negatif pada pembukaan perdagangan hari ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau dibuka melemah dan masih tertahan di kisaran level psikologis 5.000. Berdasarkan data terbaru dari RTI, pada perdagangan Senin (2/11/2026), indeks mengalami koreksi sebesar 42,71 poin atau turun sekitar 0,84 persen, sehingga menempatkan posisi IHSG di level 5.014.
Sejak bel perdagangan pertama kali dibunyikan, IHSG langsung bergerak di zona merah dengan pembukaan di level 5.039. Fluktuasi harga saham terlihat cukup dinamis sepanjang sesi pagi, di mana indeks sempat menyentuh titik terendah di level 4.981 sebelum akhirnya bergerak naik sedikit ke level tertinggi di angka 5.044. Tekanan jual yang cukup kuat membuat para investor cenderung bersikap hati-hati dalam mengambil keputusan transaksi.

Aktivitas perdagangan di lantai bursa menunjukkan volume yang cukup signifikan. Nilai transaksi indeks pada perdagangan pagi ini tercatat mencapai Rp 910 miliar. Sebanyak 2,96 miliar lembar saham telah berpindah tangan melalui 113.229 kali transaksi. Meskipun volume transaksi tergolong aktif, sentimen pasar yang negatif membuat pergerakan harga lebih didominasi oleh aksi jual.
Jika menilik komposisi pergerakan saham secara mendetail, terlihat ketimpangan yang cukup mencolok antara saham yang menguat dan yang melemah. Dari total emiten yang diperdagangkan, hanya 217 saham yang mampu menunjukkan performa positif atau menguat. Sebaliknya, sebanyak 452 saham justru mengalami penurunan harga, sementara 112 saham lainnya bergerak stagnan tanpa perubahan harga yang berarti. Dominasi saham yang melemah ini menjadi faktor utama yang menyeret indeks ke zona merah.
Jika melihat performa dalam jangka waktu yang lebih panjang, kondisi pasar modal Indonesia saat ini memang sedang menghadapi tantangan yang cukup berat. Secara harian dan bulanan, IHSG tercatat telah merosot sebesar 18,14 persen. Tren penurunan ini juga terlihat pada skala mingguan dengan angka minus 6,77 persen.
Kondisi yang lebih mengkhawatirkan terlihat pada data jangka menengah dan panjang. Dalam kurun waktu tiga bulan terakhir, indeks telah anjlok sebesar 19,03 persen. Bahkan, jika ditarik ke belakang dalam rentang enam bulan terakhir, IHSG mengalami kerontokan yang sangat dalam, yakni mencapai angka 33,74 persen. Penurunan drastis ini mengindikasikan adanya tekanan makroekonomi atau sentimen global yang secara signifikan memengaruhi kepercayaan investor di pasar domestik. Para pelaku pasar kini tengah memantau berbagai indikator ekonomi untuk melihat apakah ada titik balik atau justru penurunan lebih lanjut yang akan terjadi dalam waktu dekat.




