Pertumbuhan pesat kecerdasan buatan (AI) mendorong inovasi di berbagai sektor dan berdampak besar pada perekonomian. Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Irene Umar, menekankan pentingnya membangun ekosistem AI yang kuat, melibatkan inovator, wirausahawan, dan kolaborasi dengan talenta global. "Kita perlu menciptakan inovator-inovator AI. Belajar dari yang terbaik, seperti NVIDIA, karena persaingan AI bukan hanya nasional, tapi juga global," tegas Irene dalam Indonesia AI Day.
Irene menambahkan, infrastruktur internet yang memadai dan kesiapan sumber daya manusia (SDM) merupakan kunci keberhasilan. Ia menganggap talenta digital Indonesia, khususnya generasi muda, memiliki kreativitas tinggi yang perlu diasah dan diarahkan ke pengembangan AI.

Senada dengan itu, Fanly Tanto, Country Director Indonesia Google Cloud, menyatakan perlunya peningkatan keterampilan AI di semua level organisasi. "AI bukan sekadar alat IT, tapi solusi untuk semua industri. Pelatihan, kolaborasi universitas dan perusahaan teknologi, serta perubahan pola pikir di lingkungan kerja sangat penting," ujarnya. Fanly mencontohkan pemanfaatan AI dalam identifikasi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) 5 juta produk di E-Catalog, serta munculnya profesi baru seperti Chief of AI dan Prompt Engineer.
Hammam Riza, Ketua Umum Kolaborasi Riset dan Inovasi Industri Kecerdasan Artifisial (Korika), mengingatkan pentingnya regulasi yang tepat untuk memastikan AI digunakan secara aman dan bertanggung jawab. Ia menekankan perlunya "jutaan talenta digital yang terampil untuk mempercepat adopsi AI di pasar tenaga kerja."
Indonesia AI Day 2024, dengan tema "Unleashing Indonesia’s AI Sovereignty," menjadi wadah kolaborasi pemerintah, pebisnis, pelaku industri, dan praktisi AI untuk menciptakan inovasi di berbagai sektor. Acara ini mengungkap potensi besar AI bagi ekonomi digital Indonesia dan pengaruhnya di kancah global.




