Jakarta, Lahatsatu.com – Penggunaan mata uang lokal dalam transaksi lintas negara atau Local Currency Transaction (LCT) semakin diminati. Nilai transaksi LCT telah menembus angka US$ 11,7 miliar atau setara dengan Rp 190,71 triliun. Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan semester pertama tahun 2024 yang hanya mencapai US$ 4,7 miliar atau Rp 76,61 triliun.
Lonjakan nilai transaksi ini juga diikuti dengan peningkatan jumlah nasabah LCT yang tumbuh sekitar 45% dibandingkan tahun sebelumnya. Deputi Gubernur Bank Indonesia, Filianingsih Hendarta, menegaskan komitmen Satuan Tugas Nasional LCT untuk terus mendorong penggunaan mata uang lokal dalam transaksi lintas negara.

"Satuan Tugas Nasional LCT akan terus mendorong penggunaan mata uang lokal dalam transaksi lintas negara untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional," ujar Filianingsih dalam keterangan tertulisnya.
LCT merupakan sistem transaksi lintas negara yang menggunakan mata uang lokal masing-masing negara, sebagai alternatif dari penggunaan Dolar Amerika Serikat (AS). Sistem ini dinilai berperan penting dalam menjaga stabilitas ekonomi di tengah dinamika global dan domestik yang fluktuatif.
Deputi Kemenko Perekonomian, Ferry Irawan, menambahkan bahwa pemerintah terus berupaya memitigasi risiko tarif AS dan ketegangan geopolitik melalui berbagai upaya, termasuk negosiasi dagang dan kesepakatan I-EU CEPA (Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement).
"Serta terus melakukan mitigasi risiko domestik melalui berbagai stimulus untuk menjaga daya beli dan mendorong konsumsi serta investasi. Mengingat risiko global masih berpotensi mengganggu stabilitas nilai tukar," sebut Ferry.
Pemerintah juga mendorong perluasan LCT di sektor-sektor potensial seperti pertambangan, migas, pertanian, dan agroindustri. Capaian LCT ini merupakan hasil sinergi antarotoritas, pemberian insentif kebijakan, dan sosialisasi yang tepat sasaran kepada pelaku usaha ekspor-impor.
Partisipasi bank Appointed Cross Currency Dealer (ACCD) terus diperluas, termasuk melalui kerja sama baru dengan Korea Selatan pada September 2024 dan UEA pada Januari 2025. Kerja sama dengan Malaysia, Thailand, dan China juga terus diperkuat.
Diharapkan, penggunaan mata uang lokal akan semakin menopang stabilitas makro ekonomi dan meredam risiko volatilitas nilai tukar. Sinergi lintas kementerian/lembaga akan terus diperkuat melalui asesmen, survei berkala, dan pertukaran data untuk memaksimalkan dampak positif LCT bagi masyarakat.




