Jakarta – Gelombang tinggi dan cuaca buruk yang terus melanda perairan Cilincing, Jakarta Utara, mengakibatkan penurunan drastis pada produksi ikan asin teri. Kondisi ini dipicu oleh menipisnya pasokan ikan laut, yang merupakan bahan baku utama industri tersebut.
Pantauan Lahatsatu di lapangan menunjukkan aktivitas pengolahan ikan asin yang biasanya ramai kini tampak lesu. Banyak nelayan memilih untuk tidak melaut demi keselamatan akibat gelombang tinggi dan angin kencang. Dampaknya, hasil tangkapan ikan merosot tajam dari 3-4 ton per hari menjadi hanya sekitar 3 kuintal.

Kondisi ini memukul para pelaku usaha pengolahan ikan asin. Kelangkaan bahan baku memaksa mereka mengurangi produksi ikan asin teri. Sementara itu, permintaan pasar tetap tinggi, sehingga harga ikan laut melonjak dari Rp200 ribu menjadi Rp350 ribu per 15 kilogram.
"Kenaikan harga ini terpaksa kami lakukan untuk menutupi biaya operasional," ujar salah seorang pengusaha ikan asin di Cilincing, Rabu (21/01/2026). Namun, ia menambahkan bahwa tidak semua pedagang dapat menaikkan harga jual karena daya beli konsumen juga sedang menurun.
Penurunan produksi dan kenaikan harga ini mengancam keberlangsungan usaha pengolahan ikan asin teri di Cilincing. Para pelaku usaha berharap cuaca segera membaik agar pasokan ikan kembali normal dan produksi dapat kembali pulih.




