Jakarta – Ketegangan antara Israel dan Iran yang kembali memanas telah mengguncang pasar keuangan global. Serangan yang menyasar fasilitas strategis di Iran, termasuk fasilitas nuklir dan pabrik rudal, memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik dan dampaknya terhadap pasokan energi dunia.
Harga minyak mentah langsung merespons dengan lonjakan tajam. Harga minyak mentah Brent melonjak lebih dari 7%, mencapai US$ 74,46 per barel, mendekati level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir. Minyak mentah West Texas Intermediate AS juga mengalami kenaikan serupa, mencapai US$ 73,15 per barel.

Kondisi ini mendorong investor untuk mencari aset yang dianggap aman (safe haven). Dolar AS menguat, dan harga emas spot melonjak 1% menjadi US$ 3.417,59 per ons, mencapai level tertinggi sejak 22 April. Di Indonesia, harga emas Antam juga mengalami kenaikan signifikan, mencapai Rp 1,95 juta per gram.
Namun, sentimen negatif juga menghantam aset berisiko. Harga Bitcoin anjlok di bawah US$ 105.000, dipicu oleh ketegangan geopolitik dan likuidasi besar-besaran di pasar derivatif dan spot. Pasar kripto secara keseluruhan mengalami penurunan, dengan Ethereum, XRP, dan Solana juga mengalami penurunan signifikan.
Pasar saham global juga ikut merasakan dampaknya. Di Asia, indeks Nikkei 225 Jepang, Kospi Korea Selatan, dan S&P/ASX 200 Australia mengalami penurunan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Indonesia juga ditutup melemah 0,53% ke posisi 7.166,07.
Pembukaan perdagangan di bursa saham Amerika Serikat juga menunjukkan tren negatif. Dow Jones Industrial Average, S&P 500, dan Nasdaq Composite semuanya dibuka di zona merah, mencerminkan kekhawatiran investor terhadap ketidakpastian global.
Situasi di Timur Tengah masih sangat dinamis, dan dampaknya terhadap pasar keuangan global masih akan terus berlanjut. Investor disarankan untuk tetap waspada dan mempertimbangkan risiko dengan cermat dalam mengambil keputusan investasi.




