Strategi Desa Lawan Stunting Demi Masa Depan

lahatsatu.com – Masa depan bangsa Indonesia kini tengah dipertaruhkan melalui upaya serius di tingkat akar rumput. Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT), Yandri

Agus sujarwo

Strategi Desa Lawan Stunting Demi Masa Depan

lahatsatu.com – Masa depan bangsa Indonesia kini tengah dipertaruhkan melalui upaya serius di tingkat akar rumput. Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT), Yandri Susanto, menegaskan bahwa keberhasilan dalam menekan angka stunting merupakan kunci utama bagi kemajuan Indonesia di masa depan. Jika persoalan gizi buruk ini tidak segera ditangani secara masif, Indonesia terancam menghadapi krisis kualitas sumber daya manusia yang berdampak panjang pada kepemimpinan bangsa.

Dalam sebuah agenda penting di Bogor, Yandri memberikan apresiasi tinggi kepada sembilan desa yang dinilai memiliki kinerja luar biasa dalam program konvergensi pencegahan dan percepatan penurunan stunting (P3S). Penghargaan ini diberikan sebagai bentuk pengakuan atas komitmen pemerintah desa dalam menjaga kesehatan generasi penerus. Saat ini, data menunjukkan angka stunting di Indonesia masih berada di kisaran yang mengkhawatirkan, yakni mendekati angka 20 persen.

Strategi Desa Lawan Stunting Demi Masa Depan
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Yandri mengingatkan bahwa stunting bukan sekadar masalah kesehatan fisik, melainkan ancaman terhadap kecerdasan intelektual (IQ) generasi mendatang. "Jika generasi baru yang lahir mengalami kekurangan gizi dan pertumbuhan yang tidak sesuai usia, mereka tidak akan mampu memenuhi standar untuk menjadi pemimpin bangsa. Ini adalah persoalan yang sangat serius bagi kita semua," ungkap Yandri dalam rapat koordinasi nasional P3S, Kamis (29/10/2026).

Sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto, pemerintah mendorong keterlibatan lintas kementerian untuk mempercepat penurunan angka stunting. Salah satu langkah konkret yang diambil Kemendes PDT adalah memberikan fleksibilitas penggunaan dana desa. Kini, dana desa dapat dialokasikan secara khusus untuk pemenuhan gizi ibu hamil serta bayi yang baru lahir, guna memastikan intervensi gizi terjadi sejak dini.

Langkah ini juga bersinergi dengan program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tengah digalakkan pemerintah pusat. Menariknya, Yandri melihat program MBG bukan hanya soal pemberian makanan, melainkan sebuah strategi besar untuk membangun ekosistem ekonomi desa. Mengingat kemiskinan adalah akar penyebab stunting, maka penguatan ekonomi desa menjadi solusi jangka panjang yang sistematis.

Melalui visi Asta Cita keenam, pemerintah berupaya membangun dari bawah untuk memeratakan ekonomi dan memberantas kemiskinan. Berbagai instrumen seperti Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), Koperasi Desa Merah Putih, desa wisata, hingga desa ekspor disiapkan untuk menjadi mesin penggerak ekonomi di pedesaan. Dengan ekonomi desa yang kuat, masyarakat akan memiliki daya beli yang lebih baik untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarga.

Beberapa desa yang berhasil meraih penghargaan Desa Berkinerja Baik tahun 2026 antara lain Desa Tirtohargo di Bantul, Desa Kesambi di Kudus, Desa Sodong di Tangerang, Desa Kahala di Kutai Kartanegara, serta Desa Sakra Selatan di Lombok Timur. Keberhasilan mereka diharapkan menjadi inspirasi bagi desa-desa lain di seluruh pelosok negeri untuk bergerak serentak melawan stunting.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Klik Laporkan. Terima Kasih
Laporkan

Tags

Related Post

Tinggalkan komentar