lahatsatu.com – Ketegangan geopolitik yang kian memanas di kawasan Timur Tengah mulai memberikan dampak nyata terhadap stabilitas industri petrokimia nasional. Salah satu pemain utama, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), kini tengah bergerak cepat melakukan langkah mitigasi guna mengamankan rantai pasok bahan baku mereka. Fokus utama perusahaan saat ini adalah mencari sumber alternatif nafta untuk menghindari ketergantungan yang terlalu tinggi pada jalur Selat Hormuz yang tengah terancam.
Kondisi di Selat Hormuz menjadi perhatian serius karena jalur tersebut merupakan urat nadi distribusi energi dunia. Konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran telah menciptakan ketidakpastian besar, yang berpotensi mengganggu arus logistik global. Bagi Chandra Asri, situasi ini bukan sekadar isu politik, melainkan ancaman langsung terhadap kelancaran operasional pabrik mereka.

Direktur Sumber Daya Manusia dan Urusan Korporat Chandra Asri Group, Suryandi, mengungkapkan bahwa selama ini sekitar 80 persen kebutuhan nafta perusahaan sangat bergantung pada pasokan dari kawasan Timur Tengah. Mengingat sebagian besar pengiriman melewati Selat Hormuz, risiko disrupsi menjadi sangat tinggi. Oleh karena itu, perusahaan merasa perlu untuk segera melakukan diversifikasi agar tidak hanya terpaku pada satu wilayah geografis saja.
"Dengan adanya disrupsi terhadap pasokan dari Selat Hormuz, kami harus bergerak lebih cepat untuk mencari alternatif pasokan nafta. Kami tidak ingin hanya bergantung pada wilayah Timur Tengah," ujar Suryandi dalam sebuah diskusi bersama awak media di Jakarta Selatan.
Sebagai solusi jangka panjang untuk menghadapi ketidakpastian ini, Chandra Asri tengah menyiapkan proyek strategis berupa pembangunan fasilitas Condensate Splitter Unit (CSU) yang berlokasi di Cilegon, Banten. Fasilitas canggih ini dirancang memiliki kapasitas pengolahan minyak mentah mencapai 300.000 barel per hari. Jika proyek ini rampung sesuai target pada tahun 2027, fasilitas CSU diharapkan mampu memproduksi sekitar 2,5 juta ton nafta per tahun.
Kehadiran fasilitas CSU ini akan menjadi "benteng pertahanan" bagi perusahaan. Dengan kemampuan produksi mandiri tersebut, Chandra Asri akan memiliki fleksibilitas yang jauh lebih besar dalam mengelola bahan baku. Suryandi menekankan bahwa meskipun fasilitas ini nantinya beroperasi, perusahaan tidak akan sepenuhnya menghentikan kegiatan impor.
Langkah pembangunan fasilitas dalam negeri ini lebih ditujukan sebagai penyedia cadangan atau buffer yang kuat. Jika sewaktu-waktu terjadi gangguan mendadak di pabrik-pabrik Timur Tengah atau terjadi blokade di jalur distribusi utama, Chandra Asri sudah memiliki sumber alternatif yang siap digunakan. Strategi diversifikasi ini diharapkan dapat menjaga keandalan operasional perusahaan di tengah dinamika geopolitik dunia yang sulit diprediksi.




