lahatsatu.com – Kabar mengenai pemangkasan ekspor gas alam dari Indonesia sempat memicu kekhawatiran terkait stabilitas energi di negara tetangga. Namun, Pemerintah Singapura melalui Kementerian Energi, Perdagangan, dan Industri (METI) dengan cepat memberikan klarifikasi untuk meredam kepanikan publik. Menteri Tan See Leng menegaskan bahwa kondisi energi di Singapura saat ini berada dalam posisi yang aman dan tidak sedang menghadapi krisis.
Dalam pernyataan resminya, Tan See Leng memberikan jaminan bahwa pasokan gas domestik Singapura masih sangat mencukupi untuk memenuhi seluruh kebutuhan nasional. Ia menekankan pentingnya masyarakat untuk tidak membesar-besarkan isu pengurangan pasokan yang dilakukan oleh Indonesia. Menurutnya, pemerintah telah memiliki kendali penuh atas ketersediaan energi di negara tersebut.

Secara teknis, Tan menjelaskan bahwa mekanisme pasokan gas di Singapura dikelola melalui kontrak komersial yang ketat. Pihak Gas Supply Pte Ltd (GSPL) bertindak sebagai pengimpor utama yang menjalin kerja sama dengan berbagai pemasok, termasuk dari Indonesia. Terkait kebijakan pemangkasan ekspor dari Indonesia, GSPL kini tengah melakukan komunikasi intensif dengan para pemasok untuk mengevaluasi apakah tindakan tersebut merupakan bentuk pelanggaran kontrak atau tidak. Jika ditemukan indikasi pelanggaran, pemerintah telah menginstruksikan langkah-langkah pemulihan komersial untuk melindungi kepentingan nasional.
Mengenai besaran dampak dari pengurangan tersebut, Tan See Leng memaparkan angka yang tergolong minim. Pengurangan pasokan gas dari Indonesia diperkirakan mencapai 17 miliar British Thermal Unit per day (BBTUD) untuk periode 18 hari ke depan. Meski angka tersebut terdengar signifikan, secara persentase jumlah tersebut hanya mewakili kurang dari 2 persen dari total kebutuhan gas harian untuk sektor pembangkit listrik di Singapura.
"Pengurangan pasokan sebesar 17 BBTUD ini hanya mencakup kurang dari 2% dari kebutuhan gas harian sektor ketenagalistrikan kita. Kami memiliki cadangan pengganti yang memadai dari sumber lain, termasuk Liquefied Natural Gas (LNG)," ujar Tan See Leng sebagaimana dikutip dari laman resmi METI.
Sebagai langkah antisipasi jangka panjang, Singapura tidak tinggal diam. Pemerintah telah menyiapkan berbagai strategi diversifikasi energi agar tidak bergantung pada satu sumber saja. Langkah-langkah tersebut meliputi pengembangan sumber gas alam dari berbagai belahan dunia, pemeliharaan fasilitas LNG cadangan, hingga memastikan kesiapan Singapore GasCo untuk melakukan impor LNG tambahan sewaktu-waktu dibutuhkan.
Selain itu, perusahaan pembangkit listrik di Singapura kini diwajibkan untuk memiliki cadangan diesel yang cukup sebagai bantalan jika terjadi gangguan pasokan gas yang lebih besar di masa depan. Dalam jangka menengah, Singapura juga tengah mempercepat pembangunan terminal LNG kedua guna memperkuat ketahanan energi nasional. Tan See Leng menutup pernyataannya dengan mengingatkan bahwa Singapura memiliki pengalaman dalam menangani fluktuasi pasokan serupa di masa lalu tanpa kendala berarti, sehingga masyarakat diminta untuk tetap tenang dan menjalankan aktivitas seperti biasa.




