lahatsatu.com – Upaya memperkuat fondasi ekonomi masyarakat melalui pemerataan akses keuangan terus menunjukkan hasil yang signifikan. Melalui inisiatif Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD), aliran modal kini semakin mudah menjangkau lapisan masyarakat bawah, termasuk para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang selama ini kerap kesulitan mendapatkan suntikan dana segar.
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Friderica Widyasari Dewi, mengungkapkan capaian luar biasa dalam program ini. Berdasarkan data terbaru, sepanjang periode Agustus hingga Oktober 2026, sebanyak 350 pelaku usaha jasa keuangan telah menyalurkan pembiayaan kepada 2,1 juta debitur. Total dana yang mengalir ke masyarakat dalam kurun waktu singkat tersebut mencapai angka fantastis, yakni sekitar Rp 53 triliun.

Dalam forum Rakornas TPAKD 2026, Friderica menjelaskan bahwa penyaluran kredit masif ini merupakan buah dari sinergi erat antara OJK, Bank Indonesia, pemerintah pusat, hingga pemerintah daerah. Program ini dirancang untuk memperluas inklusi keuangan agar masyarakat tidak lagi terjebak dalam skema keuangan yang tidak resmi atau merugikan.
"Saat ini, kami telah memiliki 552 TPAKD yang tersebar di berbagai provinsi, kabupaten, hingga kota di seluruh Indonesia. Keberadaan tim ini sangat krusial untuk mendukung program Asta Cita, terutama dalam hal pemerataan ekonomi, pengentasan kemiskinan, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat secara luas," tegas Friderica.
Dampak nyata dari program ini dirasakan langsung oleh para pelaku usaha di lapangan. Salah satunya adalah Fitri, seorang warga Bendungan Jago, Jakarta Pusat, yang mengelola usaha penjualan daging sapi dan ayam bersama suaminya. Usaha keluarga yang telah berdiri selama lebih dari tiga dekade ini sempat menghadapi tantangan klasik dalam manajemen arus kas.
Fitri menceritakan bahwa tantangan terbesar dalam bisnisnya adalah jeda waktu pembayaran dari pelanggan. Seringkali, barang sudah habis terjual, namun pembayaran baru diterima keesokan harinya. Kondisi ini kerap mengganggu perputaran modal operasional harian.
"Dana tambahan ini sangat membantu untuk menjaga perputaran uang. Namanya pelanggan, kadang hari ini barang habis, tapi bayarnya baru besok. Jadi, pembiayaan ini berfungsi sebagai dana cadangan agar operasional tetap berjalan lancar," ujar Fitri saat ditemui di sela-sela acara Rakornas.
Berkat informasi dari Bank DKI, Fitri berhasil mengakses program pembiayaan yang proses pengajuannya dinilai cukup mudah dan tidak berbelit-belit. Meskipun belum memberikan lonjakan omzet yang drastis, kehadiran modal ini menjadi penyelamat bagi stabilitas usahanya di tengah kondisi ekonomi yang dinamis.
Keberhasilan Fitri menjadi potret kecil dari misi besar TPAKD: memastikan bahwa setiap pelaku usaha, sekecil apa pun skalanya, memiliki jembatan menuju layanan keuangan formal untuk menjaga keberlangsungan bisnis mereka.




