lahatsatu.com – Di tengah gempuran tantangan ekonomi yang meliputi daya beli masyarakat yang belum pulih sepenuhnya, suku bunga acuan yang cenderung tinggi, serta urgensi penguatan kualitas aset pascapandemi, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) menunjukkan performa gemilang. Bank spesialis pembiayaan perumahan ini sukses memperkokoh pondasi pengelolaan risiko dan kualitas kreditnya melalui serangkaian transformasi bisnis, digitalisasi proses, dan manajemen portofolio yang komprehensif.
Langkah strategis tersebut kini mulai membuahkan hasil positif yang nyata. Hingga akhir Maret 2026, rasio kredit macet atau Non-Performing Loan (NPL) BTN secara keseluruhan berada dalam jalur pemulihan yang signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. NPL BTN berhasil ditekan hingga menyentuh angka 3,1% pada kuartal I-2026, sebuah peningkatan yang patut diapresiasi dari posisi 3,3% pada kuartal I-2025.

Pencapaian serupa juga terlihat pada segmen inti pembiayaan perumahan. Rasio NPL Kredit Pemilikan Rumah (KPR) BTN turun menjadi sekitar 2,8% pada kuartal I-2026, membaik dari 3,0% di periode yang sama tahun sebelumnya. Secara umum, kualitas kredit konsumer BTN tetap terjaga dan terus menunjukkan perbaikan, meskipun di tengah pertumbuhan kredit dan dinamika ekonomi masyarakat yang fluktuatif.
Direktur Risk Management BTN, Setiyo Wibowo, menjelaskan bahwa perbaikan kualitas aset ini merupakan buah manis dari serangkaian inovasi dan perubahan mendasar yang telah digulirkan perseroan dalam beberapa tahun terakhir. Inisiatif tersebut mencakup pengetatan prosedur penilaian kredit, peningkatan kualitas verifikasi, digitalisasi menyeluruh proses kredit, optimalisasi analisis data, hingga penguatan pengelolaan portofolio pascapencairan dana.
"BTN tidak hanya berfokus pada ekspansi kredit, namun juga memastikan bahwa setiap pertumbuhan yang dicapai memiliki kualitas yang optimal. Oleh karena itu, kami terus memperkuat seluruh proses bisnis dari hulu hingga hilir agar pertumbuhan kredit yang kami raih menjadi lebih sehat, aman, dan berkelanjutan," ungkap Setiyo dalam keterangannya, Minggu (7/6/2026).
Salah satu pilar transformasi utama yang diimplementasikan BTN adalah "Loan Factory". Ini merupakan sentra pemrosesan kredit yang terpadu, mengonsolidasikan seluruh proses kredit konsumer secara nasional. Pemanfaatan teknologi digital, analisis data canggih, mesin pengambilan keputusan otomatis, dan otomatisasi alur kerja menjadi kunci efektivitasnya.
Transformasi ini berhasil memperkuat standardisasi proses kredit, meningkatkan akurasi verifikasi dan analisis, serta mempercepat waktu pengambilan keputusan kredit. Dengan proses yang semakin terdigitalisasi dan tersentralisasi, BTN mampu menjaga kualitas kredit baru secara lebih konsisten sekaligus meningkatkan efisiensi layanan kepada nasabah.
Implementasi Loan Factory juga mendapat sorotan positif dari kalangan analis pasar modal. Dalam laporan hasil kunjungan lapangan yang dirilis April 2026, analis Bahana Sekuritas, Razqi M. Kurniawan, menyoroti perbaikan kualitas aset pada kredit baru sebagai salah satu pencapaian krusial dari Loan Factory BTN. Kajian tersebut menunjukkan bahwa kualitas kredit berdasarkan tahun pembukuan memperlihatkan tren yang semakin sehat, dengan tingkat risiko yang jauh lebih terkendali pada portofolio baru dibandingkan yang lama, memperkokoh fondasi aset BTN di masa depan.
Selain meningkatkan kualitas kredit baru, Loan Factory juga mendorong efisiensi operasional secara signifikan. Waktu pemrosesan kredit yang sebelumnya memakan 10-14 hari berhasil dipersingkat menjadi sekitar 4-7 hari. Tingkat straight-through processing juga melonjak mendekati 70%, sementara tingkat pengerjaan ulang atau rework berhasil ditekan hingga di bawah 15%.




