Rupiah Melemah Industri Ini Terancam Krisis

lahatsatu.com – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai menimbulkan kekhawatiran di sektor manufaktur nasional. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyoroti sejumlah industri yang paling

Agus sujarwo

Rupiah Melemah Industri Ini Terancam Krisis

lahatsatu.com – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai menimbulkan kekhawatiran di sektor manufaktur nasional. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyoroti sejumlah industri yang paling rentan terhadap gejolak mata uang ini. Tercatat, dolar AS sempat menyentuh level Rp 18.187, menunjukkan penguatan signifikan yang memukul daya beli rupiah.

Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arief, menjelaskan bahwa dampak fluktuasi rupiah dapat dikategorikan dalam empat kelompok utama. Kategori pertama mencakup industri yang sangat bergantung pada bahan baku impor namun memasarkan produknya di pasar domestik. Kelompok kedua adalah industri yang juga mengimpor bahan baku tetapi produknya berorientasi ekspor. Sementara itu, kelompok ketiga dan keempat masing-masing melibatkan industri dengan bahan baku lokal yang menjual produknya di dalam negeri atau mengekspornya.

Rupiah Melemah Industri Ini Terancam Krisis
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

"Dari keempat kategori tersebut, yang paling membutuhkan perhatian serius adalah industri yang bahan bakunya diimpor dan produk akhirnya dijual di pasar domestik," ungkap Febri di Gedung DPR RI Senayan, Jakarta. Ia menambahkan, sektor-sektor seperti tekstil, komponen elektronik, dan industri petrokimia yang memproduksi bahan baku plastik untuk pasar lokal, menjadi yang paling terdampak dan perlu dicermati secara seksama.

Untuk meredam dampak negatif ini, Kemenperin aktif mendorong pemanfaatan skema Local Currency Settlement (LCS) yang digagas oleh Bank Indonesia. Melalui LCS, pelaku usaha dapat melakukan transaksi perdagangan internasional dengan negara-negara mitra menggunakan mata uang lokal masing-masing, tanpa harus terikat pada dominasi dolar AS. "Ini memungkinkan mereka membeli bahan baku impor tanpa harus selalu menggunakan dolar, terutama jika berinteraksi dengan negara-negara yang sudah bekerja sama seperti Tiongkok, Jepang, Malaysia, dan Thailand," jelas Febri.

Febri juga melihat kondisi pelemahan rupiah sebagai sebuah momentum strategis untuk mengakselerasi pengembangan industri substitusi impor di Tanah Air. Kenaikan harga bahan baku impor, menurutnya, bisa menjadi daya tarik bagi investor untuk menanamkan modal dalam pembangunan fasilitas produksi bahan baku di dalam negeri.

Menanggapi anggapan umum mengenai tingginya ketergantungan industri nasional pada bahan baku impor, Febri memberikan klarifikasi. Data Kemenperin menunjukkan bahwa proporsi bahan baku impor dalam struktur manufaktur nasional sebenarnya hanya sekitar 21%. Ia merinci, 34% kebutuhan bahan baku industri dipasok dari sektor manufaktur domestik itu sendiri, baik dari industri hulu maupun antara. Sedangkan 45% sisanya berasal dari sektor hulu seperti perkebunan, kehutanan, pertambangan, minyak, listrik, dan gas.

"Jadi, dari keseluruhan struktur bahan baku industri kita, hanya 21% yang berasal dari impor. Selama ini, narasi yang beredar bahwa 70% bahan baku industri itu impor seringkali disalahartikan. Angka 70% itu merujuk pada total impor secara keseluruhan, bukan dari total seluruh bahan baku industri di hulu, intermediate, dan hilir," tutup Febri, meluruskan kesalahpahaman yang kerap terjadi.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Klik Laporkan. Terima Kasih
Laporkan

Tags

Related Post

Tinggalkan komentar