Jakarta, Lahatsatu.com – Lembaga pemeringkat internasional Moody’s Investors Service (Moody’s) menurunkan outlook peringkat kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan kekhawatiran Moody’s terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi salah satu faktor utama di balik keputusan tersebut.
Purbaya menjelaskan bahwa Moody’s khawatir program MBG dapat memberikan tekanan pada fiskal negara. Oleh karena itu, pemerintah berkomitmen untuk memastikan program tersebut berjalan tepat sasaran, efektif, dan efisien.

"Kami akan memastikan tidak ada pemborosan yang tidak terkontrol. Kekhawatiran Moody’s ada di situ," ujar Purbaya di Jakarta, Jumat (6/2/2026).
Purbaya menambahkan, pemerintah akan memantau realisasi anggaran kementerian dan lembaga (K/L), termasuk Badan Gizi Nasional (BGN), secara ketat. Belanja pemerintah akan didorong agar tepat sasaran, tepat waktu, dan meminimalisir potensi kebocoran, termasuk di pemerintahan daerah.
Sebelumnya, Moody’s telah melakukan kunjungan ke Jakarta pada 27-29 Januari 2026 untuk berdiskusi dengan berbagai K/L dan otoritas, termasuk Kementerian Keuangan. Selain program MBG, Moody’s juga menyoroti potensi pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Defisit APBN 2025 tercatat sebesar 2,92% Produk Domestik Bruto (PDB), meningkat dari rencana awal sebesar 2,53% PDB.
"Mereka khawatir defisit melebar, tetapi mereka juga tahu bahwa kami dapat mengendalikannya dengan baik," kata Purbaya. Ia menambahkan bahwa rilis outlook tersebut mungkin dilakukan sebelum data pertumbuhan ekonomi terbaru keluar. Purbaya meyakini, jika data pertumbuhan ekonomi sudah dirilis, angka tersebut mungkin akan sedikit berbeda.




