lahatsatu.com – Dunia bisnis internasional kini mulai melirik potensi besar yang lahir dari bangku perkuliahan. Hal ini terbukti melalui pencapaian luar biasa para pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM) peserta program Campuspreneur dari Kementerian Perdagangan dalam ajang Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41. Hanya dalam dua hari pertama pameran, kelompok wirausaha muda ini berhasil mencatatkan potensi transaksi yang fantastis, mencapai USD 22,56 juta atau setara dengan Rp 408,19 miliar.
Menteri Perdagangan, Budi Santoso, mengungkapkan bahwa angka tersebut merupakan bukti nyata bahwa produk berbasis inovasi perguruan tinggi memiliki daya saing tinggi di pasar global. Menurutnya, keterlibatan mahasiswa, alumni, hingga dosen dalam pameran dagang internasional seperti TEI adalah langkah strategis untuk mengubah ide kreatif menjadi bisnis berorientasi ekspor.

"Perguruan tinggi memiliki potensi besar dalam melahirkan wirausaha muda yang inovatif. Melalui program Campuspreneur, kami mendorong agar produk-produk bernilai tambah ini tidak hanya jago di kandang, tetapi mampu menjangkau pasar internasional," ujar Budi Santoso dalam keterangan resminya.
Dari total potensi transaksi tersebut, sebagian besar telah menunjukkan progres yang sangat positif. Sebanyak USD 21,46 juta telah berhasil dikunci melalui penandatanganan Letter of Intent (LoI) dengan pembeli dari berbagai negara. Sementara itu, sisanya sebesar USD 1,1 juta masih dalam tahap penjajakan intensif atau kontak dagang.
Keberhasilan ini mencakup berbagai sektor produk yang sangat beragam. Beberapa UKM kampus seperti Futra Export dan Pustaka Dagang dari Binus University, serta Worldwise dari Telkom University, telah sukses menandatangani kesepakatan dengan pembeli dari Jepang, Belanda, Hong Kong, hingga Taiwan. Tidak hanya itu, Inofarm dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta juga mencatatkan prestasi serupa.
Produk yang ditawarkan pun sangat bervariasi, mulai dari komoditas alam seperti kakao, kayu manis, gula aren, hingga produk turunan kelapa seperti arang dan karbon aktif. Menariknya, inovasi tidak hanya berhenti pada produk fisik, tetapi juga merambah ke sektor jasa dan teknologi, seperti platform edukasi digital dan pengendali hama berbahan alami.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag, Fajarini Puntodewi, menjelaskan bahwa 25 UKM dari 20 perguruan tinggi mitra berhasil lolos kurasi ketat dari 80 calon peserta. Keberhasilan ini bukan tanpa persiapan matang. Para peserta telah dibekali pelatihan teknik ekspor, desain ulang produk, hingga simulasi komunikasi bisnis agar siap menghadapi pembeli internasional.
Salah satu kisah sukses datang dari Worldwise, sebuah startup pembelajaran bahasa dari Telkom University. CEO Worldwise, Moses, mengaku bahwa program Campuspreneur menjadi pintu gerbang bagi perusahaannya untuk menembus pasar Belanda melalui kesepakatan LoI.
Program Campuspreneur sendiri merupakan bagian dari inisiatif besar ‘Dari Lokal untuk Global’ milik Kemendag. Melalui ajang TEI 2026 yang bertema ‘The Ultimate Hub for Global Sourcing’, pemerintah berharap sinergi antara dunia pendidikan dan perdagangan ini dapat menciptakan ekosistem ekspor yang berkelanjutan bagi generasi muda Indonesia.




