lahatsatu.com – Dunia peternakan ayam broiler di Indonesia tengah berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Para peternak kini tengah berjuang melawan arus ekonomi yang tidak berpihak pada mereka. Fenomena "jual rugi" menjadi pemandangan umum di lapangan, di mana biaya yang dikeluarkan untuk membesarkan ayam jauh lebih besar dibandingkan harga jual yang diterima di tingkat kandang.
Kondisi kritis ini dipicu oleh ketidakseimbangan antara melonjaknya biaya produksi dengan merosotnya harga jual ayam hidup atau live bird (LB). Berdasarkan data yang dihimpun, harga ayam hidup di tingkat peternak saat ini merosot ke angka Rp 21.000 hingga Rp 22.000 per kilogram. Padahal, jika dihitung secara mendalam, Harga Pokok Produksi (HPP) untuk menghasilkan satu kilogram ayam pedaging sudah menyentuh angka Rp 23.000 hingga Rp 23.500 per kilogram.

Asep Saepudin, perwakilan dari Peternak Rakyat Mandiri Indonesia (Permindo), mengungkapkan bahwa situasi ini telah membuat para peternak merasa sangat terjepit. Tekanan ekonomi ini dilaporkan mulai terasa hebat sejak memasuki awal tahun 2026. Menurutnya, biaya pakan menjadi beban utama yang paling terasa dampaknya.
"Kondisi saat ini sangat berat. Harga pakan rata-rata sudah menembus angka di atas Rp 9.400 per kilogram, terutama untuk jenis pakan starter usia 7 hingga 21 hari. Padahal, dalam kondisi normal, harga pakan seharusnya berkisar antara Rp 8.000 hingga Rp 8.500 saja. Sementara itu, harga jual ayam di kandang justru turun ke Rp 21.000-Rp 22.000 per kilogram. Dengan HPP kami yang sudah mencapai Rp 23.000, jujur saja, kami merasa sangat pusing," keluh Asep kepada awak media.
Lonjakan harga pakan ini tidak terjadi tanpa alasan. Salah satu faktor utamanya adalah sulitnya pasokan bahan baku, terutama jagung. Informasi di lapangan menunjukkan bahwa harga jagung kini telah melampaui Rp 7.800 per kilogram, bahkan banyak yang sudah menyentuh angka di atas Rp 8.000 per kilogram.
Selain masalah pakan, beban peternak semakin berat dengan tingginya harga Day Old Chick (DOC) atau bibit ayam umur sehari. Harga DOC saat ini berada di rentang Rp 7.500 hingga Rp 8.500 per ekor, sebuah kenaikan signifikan jika dibandingkan dengan harga sebelumnya yang hanya berada di kisaran Rp 6.000 per ekor.
Menariknya, meski penyerapan pasar ayam sebenarnya masih tergolong stabil, namun melimpahnya stok ayam di berbagai wilayah memberikan daya tawar yang lebih besar kepada pembeli. Kondisi stok yang berlebih ini dimanfaatkan oleh para pembeli untuk menekan harga serap di tingkat peternak serendah mungkin.
Menyikapi krisis ini, Permindo mendesak pemerintah untuk segera turun tangan melakukan intervensi. Para peternak menuntut adanya pengendalian harga bahan baku pakan agar bisa kembali ke angka normal di kisaran Rp 7.000-Rp 8.000 per kilogram. Selain itu, mereka meminta harga DOC dipatok kembali pada angka Rp 5.500 hingga Rp 6.000 per ekor.
Sebagai langkah perlindungan terakhir, Permindo juga meminta pemerintah menetapkan Harga Acuan Penjualan (HAP) ayam hidup di angka Rp 27.000 per kilogram. Kebijakan ini dianggap sangat mendesak guna mengompensasi tingginya biaya produksi yang terus membengkak, demi menyelamatkan keberlangsungan usaha peternak rakyat.




