Jakarta, Lahatsatu.com – Jeritan pilu terdengar dari Pasar Barito, Jakarta Selatan, di tengah hiruk pikuk aktivitas jual beli. Para pedagang yang terancam relokasi kini dihantui masalah pelik: utang menumpuk dan dagangan sepi pembeli.
Pandemi Covid-19 dan penutupan pasar akibat revitalisasi telah memukul telak perekonomian mereka. Banyak yang belum mampu bangkit, bahkan kesulitan sekadar mengisi lapak dagangan.

Cahyono, salah seorang pedagang, mengungkapkan betapa beratnya kondisi saat ini. Penjualan merosot tajam, modal tak kunjung kembali, sementara kewajiban terus menghantui.
"Kondisi ekonomi seperti ini saja, tanpa relokasi, kami sudah terpuruk. Lihat saja, barang-barang pada kosong. Sudah tidak kuat, sepi sekali, persaingan ketat," ujarnya saat ditemui Lahatsatu.com, Jumat (18/7/2025).
Revitalisasi Tinggalkan Utang Menggunung
Masalah tak berhenti pada sepinya pembeli. Cahyono menjelaskan bahwa revitalisasi pasar pada 2022 memaksa pedagang berhenti berjualan selama berbulan-bulan. Untuk bertahan hidup, sebagian besar terpaksa berutang ke bank atau meminjam modal usaha.
"Dulu, kami tidak berjualan selama 8 bulan karena renovasi. Baru berjalan hampir 2 tahun setelah masuk kembali, masih mencari pelanggan, eh, sudah harus relokasi. Modal kami saja pinjam dari bank, bagaimana cara mengembalikannya?" keluhnya.
Beban ini menjadi lingkaran setan. Tanpa omzet memadai, mereka kesulitan membayar cicilan. Tanpa modal, mereka tak bisa membeli stok barang. Beberapa bahkan terpaksa menunda pembayaran ke pemasok dan karyawan.
"Urusan dengan bank bermasalah, dengan pemasok bermasalah, tagihan menumpuk, karyawan juga kena imbasnya. Efeknya sangat besar, luar biasa," imbuh Cahyono.
Rencana relokasi pasar semakin membuat para pedagang khawatir akan masa depan mereka, terutama bagaimana mencari pelanggan baru di tempat yang asing.
"Pindah ke tempat baru belum tentu bisa langsung jalan. Bagaimana caranya? Harus mencari pelanggan baru. Dulu saja, ditutup 8 bulan, pelanggan sudah hilang. Sekarang mau direlokasi, berat," keluhnya.
"Sama saja dengan mati. Walaupun disediakan tempat, tetap saja mati. Apalagi kalau tidak disediakan tempat, digusur begitu saja, habis sudah," tandas Cahyono.
Bukan Sekadar Relokasi, Tapi Masalah Finansial Struktural
Mukhlisin, pedagang lainnya, mengakui bahwa sebagian besar rekannya masih dibebani utang. Meski ia sendiri tidak memiliki cicilan bank, kondisi keuangan tetap membuatnya resah.
"Banyak yang belum lunas KUR (Kredit Usaha Rakyat). Utang saja belum lunas, kok disuruh pindah," tambahnya.
Tanpa Tabungan, Bertahan Pun Sulit
Meski tidak terlilit utang, Mukhlisin mengaku tidak memiliki tabungan. Simpanannya sudah habis untuk modal bertahan pasca-revitalisasi. Padahal, kebutuhan hidup terus berjalan.
"Saya terus terang tidak punya KUR, tapi duit juga tidak punya. Makanya saya juga dag dig dug," ucapnya dengan nada khawatir.




