lahatsatu.com – Masyarakat kini tengah menghadapi tantangan baru di meja makan, yakni melonjaknya harga komoditas cabai yang kian mencekik kantong. Meski beberapa indikator menunjukkan adanya penurunan tipis, harga cabai rawit merah di tingkat konsumen masih tertahan di angka yang fantastis, bahkan menembus Rp 100.000 per kilogram. Fenomena ini memicu pertanyaan besar: mengapa harga di pasar tetap tinggi padahal kondisi di tingkat petani mulai berangsur membaik?
Dewan Pertimbangan Asosiasi Champion Cabai Indonesia (ACCI), Tunov Mondro Atmodjo, mengungkapkan bahwa sebenarnya telah terjadi pergeseran harga di tingkat produsen. Jika sebelumnya petani menjual cabai dengan harga Rp 60.000 per kilogram, kini angka tersebut telah melandai ke kisaran Rp 42.000 hingga Rp 50.000 per kilogram. Namun, penurunan di tingkat petani ini tidak serta-merta membuat harga di pasar retail ikut merosot tajam.

Salah satu faktor utama yang menjadi biang kerok fluktuasi harga ini adalah faktor alam. Cuaca ekstrem dan musim kemarau panjang telah memberikan dampak signifikan terhadap produktivitas lahan. Tunov menjelaskan bahwa kondisi kekeringan memaksa tanaman cabai untuk berhenti berproduksi secara optimal. Dalam situasi sulit seperti ini, hasil panen yang didapat petani hanya berkisar di angka 50 persen dari kapasitas normal. Menurutnya, hasil panen setengah dari biasanya tersebut sebenarnya sudah tergolong cukup baik mengingat kondisi cuaca yang tidak menentu.
Selain faktor alam, masalah klasik yang menjadi penghambat stabilitas harga adalah rantai pasok yang terlalu panjang. Tunov menyoroti bahwa distribusi cabai di banyak wilayah masih menggunakan pola lama yang melibatkan terlalu banyak perantara atau "tangan" sebelum akhirnya sampai ke tangan konsumen. Meskipun saat ini sudah mulai muncul inisiatif kerja sama antar daerah dan distribusi langsung dari kelompok tani ke pasar, pola distribusi yang berlapis-lapis ini tetap menjadi kontributor utama tingginya harga di tingkat akhir.
Menjelang periode Natal dan Tahun Baru (Nataru), kekhawatiran akan lonjakan harga kembali muncul. Namun, pihak otoritas pangan memberikan optimisme. Sekretaris Utama Badan Pangan Nasional (Bapanas), Ito Hediarto, menegaskan bahwa stok cabai secara nasional sebenarnya dalam kondisi aman. Tantangan utamanya kini terletak pada kelancaran distribusi, terutama untuk pengiriman antar pulau yang menggunakan jalur laut.
Untuk mengantisipasi kendala logistik tersebut, Bapanas telah menyiapkan Fasilitas Distribusi Pangan (FDP). Program ini bertujuan untuk memobilisasi pasokan dari daerah yang mengalami surplus ke daerah yang mengalami kelangkaan, sehingga beban biaya angkut dapat ditekan dan harga tetap terjangkau. Hingga saat ini, realisasi anggaran FDP telah mencapai 69,5 persen, yang berarti masih ada cadangan anggaran yang cukup besar untuk menangani lonjakan harga ekstrem di daerah-daerah tertentu.
Berdasarkan data terbaru dari Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional, meski ada tren penurunan tipis pada beberapa jenis cabai, harga cabai rawit merah masih berada di level Rp 102.950 per kilogram. Pemerintah terus memantau pergerakan harga ini melalui rapat inflasi rutin setiap pekan guna memastikan stabilitas pangan tetap terjaga hingga akhir tahun.




