Jakarta – Media internasional, Al Jazeera, menyoroti isu pelik terkait sulitnya mendapatkan pekerjaan layak bagi generasi muda di Indonesia. Sorotan ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan tingkat pengangguran pemuda tertinggi di Asia.
Menurut laporan Al Jazeera, sekitar 16% dari 44 juta penduduk Indonesia yang tergolong Generasi Z (Gen Z) saat ini tidak memiliki pekerjaan. Angka ini lebih dari dua kali lipat dibandingkan negara tetangga seperti Thailand dan Vietnam. Bahkan, optimisme anak muda Indonesia terhadap kondisi ekonomi juga lebih rendah dibandingkan negara-negara tersebut.

Survei dari ISEAS-Yusof Ishak Institute menunjukkan bahwa hanya 58% anak muda Indonesia yang optimis terhadap rencana ekonomi pemerintah, jauh di bawah rata-rata 75% dari enam negara yang disurvei. Keresahan ini sempat memicu aksi demonstrasi mahasiswa dengan gerakan "Indonesia Gelap" sebagai bentuk protes terhadap rencana pemangkasan anggaran layanan publik.
Ekonom dari Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Adinova Fauri, berpendapat bahwa regulasi ketenagakerjaan yang kaku, proses rekrutmen yang rumit, dan upah rendah menjadi penyebab utama tingginya pengangguran pemuda. "Banyak yang memilih tidak masuk pasar kerja daripada bekerja dengan gaji di bawah ekspektasi," ujarnya.
Deniey Adi Purwanto, dosen Departemen Ekonomi IPB University, menambahkan bahwa kualitas pekerjaan dan dominasi sektor informal menjadi masalah utama. Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024 menunjukkan bahwa sekitar 56% tenaga kerja Indonesia bekerja di sektor informal, yang berarti jutaan pekerja rentan dan tanpa jaminan sosial.
"Indonesia memiliki jumlah anak muda yang sangat besar, sehingga tekanan terhadap pasar kerja jauh lebih besar. Kita juga mengalami peningkatan pesat dalam jumlah lulusan SMA dan perguruan tinggi," kata Purwanto. Banyak lulusan sarjana enggan bekerja di sektor informal atau menerima pekerjaan bergaji rendah, sehingga memilih menunggu pekerjaan yang layak dan akhirnya menganggur.
Minimnya pelatihan vokasional dan program magang yang efektif juga menjadi sorotan. Ketimpangan antarwilayah memperburuk keadaan, dengan anak muda di daerah terpencil kesulitan mengakses pekerjaan layak.
Al Jazeera mewawancarai Andreas Hutapea, seorang sarjana hukum yang merasakan sulitnya mencari pekerjaan. Setelah gagal dalam seleksi CPNS dan calon jaksa, Andreas kini membantu orang tuanya di toko kelontong kecil di Medan. Ia juga mengambil pekerjaan sampingan sebagai teknisi pemasangan sistem suara.
"Aku nggak mau jadi beban buat orang tuaku, yang sudah bayar semua biaya kuliahku," ujar Andreas, mencerminkan perasaan frustrasi banyak lulusan muda di Indonesia.
Lahatsatu.com mencoba menghubungi pihak terkait untuk mendapatkan tanggapan lebih lanjut mengenai isu ini, namun belum mendapatkan respons hingga berita ini diturunkan.




