lahatsatu.com – Gejolak geopolitik yang melanda berbagai belahan dunia ternyata membawa angin segar bagi kantong raksasa energi asal Amerika Serikat, ExxonMobil. Di tengah ketegangan yang meningkat antara Amerika Serikat dengan Iran, serta konflik berkepanjangan di kawasan Teluk Persia dan perang Rusia-Ukraina, perusahaan migas ini justru berhasil mencatatkan lonjakan laba yang sangat fantastis.
Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di pasar global menjadi faktor utama yang mendorong performa keuangan perusahaan. Meskipun kondisi dunia sedang tidak menentu, ketidakpastian pasokan energi justru menciptakan peluang emas bagi sektor hilir ExxonMobil.

Berdasarkan laporan keuangan terbaru untuk kuartal III-2026, ExxonMobil mencatatkan total pendapatan yang disesuaikan mencapai angka US$ 17,5 miliar atau setara dengan Rp 317,57 triliun. Pencapaian ini terbilang sangat impresif karena berhasil melampaui prediksi para analis di Wall Street yang sebelumnya hanya memperkirakan pendapatan di angka US$ 16,6 miliar atau sekitar Rp 301,24 triliun.
Menariknya, performa ini menunjukkan dinamika yang unik antara sektor hulu dan hilir. Di sektor hulu migas, pendapatan yang disesuaikan justru mengalami penurunan sebesar 20% menjadi US$ 7,3 miliar atau Rp 132,47 triliun dibandingkan kuartal sebelumnya. Penurunan ini dipicu oleh harga minyak mentah Brent yang cenderung lebih rendah dibandingkan tiga bulan sebelumnya.
Namun, penurunan di sektor hulu tersebut tertutupi dengan sangat telak oleh ledakan pendapatan di sektor hilir. Pendapatan sektor hilir yang disesuaikan melonjak drastis hingga 120% menjadi US$ 9 miliar atau Rp 163,32 triliun. Lonjakan ini terjadi karena margin penyulingan yang semakin tinggi serta gangguan kapasitas produksi bahan bakar global yang memicu kelangkaan pasokan diesel.
CEO ExxonMobil, Darren Woods, menegaskan bahwa perusahaan terus berkomitmen untuk menjawab tantangan kebutuhan energi dunia. Menurutnya, Exxon memanfaatkan skala bisnis, integrasi yang kuat, serta kemampuan teknis yang mumpuni untuk tetap bertahan dan berkembang di tengah situasi global yang penuh tantangan.
Keberhasilan ini juga tercermin dari laba per saham yang disesuaikan, yang mencapai US$ 4,23 atau sekitar Rp 76.761 per lembar saham. Angka ini kembali melampaui ekspektasi pasar yang sebelumnya mematok angka US$ 4,08.
Sebagai bentuk apresiasi kepada para pemegang saham, ExxonMobil tidak tanggung-tanggung dalam membagikan keuntungan. Perusahaan telah membayarkan dividen sebesar US$ 4,3 miliar atau Rp 78,03 triliun. Selain itu, mereka juga melakukan pembelian kembali saham (buyback) senilai US$ 5,1 miliar atau Rp 92,54 triliun. Bahkan, Exxon telah merencanakan program buyback saham yang lebih masif senilai US$ 20 miliar atau Rp 362,94 triliun untuk tahun 2027 mendatang.
Efisiensi operasional juga menjadi kunci sukses. Laporan menyebutkan bahwa kilang-kilang milik Exxon di kawasan Pantai Teluk Amerika Serikat berhasil mencapai tingkat produksi diesel tertinggi kedua dalam sejarah mereka, dengan tingkat pemanfaatan unit minyak mentah yang mencapai angka sempurna, yakni 100 persen.




