lahatsatu.com – Pemerintah Jepang tengah bersiap melakukan langkah drastis terkait kebijakan energi nasional. Mulai Desember mendatang, Negeri Sakura berencana untuk mulai memangkas subsidi bahan bakar minyak (BBM), termasuk bensin, secara bertahap. Keputusan ini diambil sebagai respons atas beban anggaran negara yang semakin membengkak akibat fluktuasi harga energi global.
Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, mengungkapkan bahwa besarnya subsidi bensin yang selama ini disalurkan pemerintah telah mencapai angka yang sangat signifikan. Saat ini, nilai subsidi untuk bensin telah melampaui 50 yen per liter, dengan estimasi pengeluaran negara mencapai lebih dari 10 miliar yen setiap harinya. Jika ditotal sejak Oktober tahun lalu, akumulasi subsidi yang telah dikeluarkan oleh pemerintah Jepang telah menyentuh angka fantastis, yakni sekitar 1,4 triliun yen.

Langkah intervensi pemerintah melalui subsidi ini sebenarnya telah dilakukan sejak Maret lalu. Tujuannya adalah untuk menjaga agar harga eceran bensin di tingkat konsumen tetap terkendali di kisaran 170 yen per liter. Namun, melihat kondisi fiskal yang menantang, Takaichi menjelaskan bahwa pemerintah akan melakukan penyesuaian secara perlahan. Harga acuan tersebut direncanakan akan mengalami kenaikan sebesar 5 yen setiap bulannya hingga memasuki musim semi mendatang.
Meskipun kebijakan pemangkasan subsidi BBM mulai diberlakukan, pemerintah Jepang tidak sepenuhnya melepaskan beban masyarakat. Sebagai bentuk mitigasi terhadap kenaikan biaya hidup, pemerintah berjanji akan tetap memberikan bantuan subsidi untuk tagihan listrik dan gas selama musim dingin ini. Kebijakan ini serupa dengan langkah yang diambil pemerintah pada tahun sebelumnya.
Melalui skema bantuan energi untuk listrik dan gas tersebut, rumah tangga di Jepang diperkirakan dapat menghemat pengeluaran sekitar 7.000 yen atau setara dengan 44 dolar AS selama periode tiga bulan, terhitung sejak bulan Desember. Langkah ini diharapkan dapat menjadi bantalan ekonomi bagi warga agar tidak terlalu terpukul oleh kenaikan harga energi secara keseluruhan.
Kondisi ekonomi Jepang saat ini memang sedang berada dalam tekanan akibat dinamika geopolitik dunia. Harga minyak mentah global mengalami lonjakan tajam menyusul ketegangan di Timur Tengah. Penutupan Selat Hormuz akibat pecahnya konflik antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran pada akhir Februari lalu menjadi pemicu utama meroketnya harga minyak dunia.
Sebagai negara yang memiliki keterbatasan sumber daya alam, Jepang sangat bergantung pada impor minyak mentah, terutama dari kawasan Timur Tengah. Ketidakstabilan harga di pasar global secara langsung memberikan tekanan berat pada anggaran negara Jepang. Oleh karena karena itu, penyesuaian subsidi ini menjadi pilihan sulit namun dianggap perlu untuk menjaga stabilitas ekonomi jangka panjang negara tersebut.




