Jakarta – Memanasnya tensi antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran berdampak signifikan pada harga minyak dunia. Situasi ini justru menjadi berkah tersendiri bagi Rusia, negara yang selama ini menghadapi sanksi dari AS dan Uni Eropa.
Menurut laporan Al Jazeera, Sabtu (21/3/2026), harga minyak mentah Brent, yang menjadi acuan internasional, melonjak hingga menembus US$ 100 per barel setelah Selat Hormuz ditutup sejak 28 Februari lalu. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan sebelum konflik Timur Tengah berkecamuk, yang berada di kisaran US$ 65 per barel.

Lonjakan harga minyak ini memaksa pemerintah AS untuk sementara melonggarkan sanksi terhadap pembelian minyak Rusia bagi sejumlah negara. Langkah ini diambil untuk meningkatkan pasokan minyak mentah di pasar global dan menekan kenaikan harga.
Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA) memperkirakan bahwa Rusia meraup tambahan dana hingga US$ 777 juta atau sekitar Rp 13,15 triliun (dengan kurs Rp 16.928 per dolar AS) dari penjualan minyak selama dua minggu pertama perang AS-Israel melawan Iran.
"Rusia muncul sebagai pihak yang paling diuntungkan dari konflik Timur Tengah karena kekosongan pasokan besar-besaran akibat penutupan Selat Hormuz," ujar analis energi independen, George Voloshin, kepada Al Jazeera.
Keputusan AS untuk melonggarkan sanksi memberikan kesempatan emas bagi Moskow untuk berperan sebagai pemasok minyak mentah utama dunia selama blokade Iran. Rusia dapat memaksimalkan volume ekspor dan pendapatan negara.
"Kilang-kilang global sangat membutuhkan minyak mentah medium-sour alternatif, dan jenis minyak mentah Urals Rusia sangat memenuhi kebutuhan ini," jelas Voloshin.
India menjadi negara pertama yang menerima pengecualian terbatas dari AS untuk membeli minyak Rusia yang sudah berada di laut tanpa terkena sanksi ekonomi.
"Terdapat bukti jelas mengenai pengalihan logistik besar-besaran kargo minyak Rusia di tengah perjalanan. Beberapa kapal tanker yang awalnya menuju pelabuhan China telah mengubah arah ke India," ungkapnya.
Voloshin menambahkan bahwa pergeseran ini didorong oleh upaya agresif India untuk mendapatkan kargo-kargo bermasalah dengan harga diskon guna mengisi cadangan strategis dan memenuhi permintaan domestik, serta peningkatan risiko dan biaya asuransi yang terkait dengan pengiriman jarak jauh ke Asia Timur melalui perairan yang diperebutkan.
Voloshin berpendapat bahwa jika konflik Timur Tengah terus berlanjut dan tidak ada sumber minyak lain yang mudah diakses, negara-negara di dunia mungkin akan terus mencari minyak mentah Rusia meskipun AS memberlakukan kembali sanksi.
"Jika hal itu berlanjut, importir utama seperti India mungkin merasa tidak punya pilihan selain terus membeli minyak Rusia untuk mencegah keruntuhan ekonomi domestik," pungkas Voloshin.



