lahatsatu.com – Langkah strategis yang diambil oleh Bank Indonesia (BI) dalam melonggarkan aturan Giro Wajib Minimum (GWM) membawa angin segar bagi industri perbankan nasional. Kebijakan ini disambut antusias oleh PT Bank Central Asia Tbk (BCA), yang melihat adanya peluang besar untuk memperkuat posisi likuiditas dan mendorong penyaluran kredit ke masyarakat.
Dalam kebijakan terbaru tersebut, BI memutuskan untuk memangkas kewajiban GWM bagi bank umum secara bertahap, dari yang sebelumnya berada di angka 9% menjadi 7%. Langkah ini dinilai sebagai bentuk dukungan nyata otoritas moneter terhadap pertumbuhan sektor perbankan domestik agar lebih fleksibel dalam mengelola dana.

Direktur BCA, Vera Eve Lim, menyampaikan apresiasinya atas langkah proaktif Bank Indonesia. Menurutnya, pelonggaran ini memberikan dampak langsung terhadap ketersediaan dana di BCA. Berdasarkan perhitungan internal perusahaan, kebijakan penurunan GWM sebesar 2% tersebut memberikan dampak pelonggaran likuiditas bagi BCA hingga mendekati angka 1%.
"Kami mengucapkan terima kasih kepada Bank Indonesia yang selalu mendukung pertumbuhan industri perbankan. Pelonggaran GWM ini berdampak positif bagi BCA," ujar Vera dalam sebuah konferensi pers virtual pada Selasa (27/10/2026).
Menariknya, meskipun terdapat perubahan regulasi yang signifikan, BCA memutuskan untuk tidak mengubah Rencana Bisnis Bank (RBB) yang telah disusun sebelumnya. Sebaliknya, bank swasta terbesar di Indonesia ini justru menunjukkan optimisme tinggi untuk melampaui target awal mereka.
Jika sebelumnya BCA mematok target pertumbuhan kredit di kisaran 8-10% untuk tahun 2026, kini perusahaan menaikkan ekspektasinya ke angka dua digit. Melihat tren permintaan kredit yang terus meningkat hingga kuartal ketiga, BCA memproyeksikan pertumbuhan kredit tahun ini akan mencapai kisaran 10% hingga 12%.
Data menunjukkan bahwa hingga September 2026, pertumbuhan kredit BCA telah mencatatkan angka yang impresif, yakni sebesar 12,6% secara tahunan (year-on-year/yoy). Total penyaluran kredit mencapai Rp 1.063 triliun, yang didistribusikan secara hati-hati ke berbagai sektor mulai dari korporasi besar, segmen komersial, hingga sektor Usaha Kecil dan Menengah (UKM).
Selain mengejar pertumbuhan kredit, BCA juga tetap fokus pada menjaga kualitas aset. Vera memastikan bahwa rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) akan tetap stabil di level yang aman. Saat ini, NPL BCA berada di angka 1,8%, dan perusahaan berkomitmen untuk menjaganya tetap dalam rentang 1,8% hingga 2%.
Kesehatan finansial BCA juga didukung oleh likuiditas yang kuat. Dana murah atau Current Account Savings Account (CASA) tumbuh 10,4% menjadi Rp 1.103 triliun, sementara total Dana Pihak Ketiga (DPK) naik 8% menjadi Rp 1.301 triliun. Kondisi ini menjadi fondasi kokoh bagi BCA untuk terus mencetak laba, yang hingga kuartal III-2026 telah mencapai Rp 45,2 triliun.




