Jakarta, Lahatsatu.com – Isu kenaikan iuran BPJS Kesehatan pada tahun 2026 mendatang semakin santer terdengar. Menanggapi hal ini, Direktur Utama BPJS Kesehatan, Ali Ghufron Mukti, angkat bicara. Ia menjelaskan bahwa BPJS Kesehatan terlibat dalam penyusunan berbagai skenario terkait keberlangsungan program jaminan kesehatan ini, namun bukan sebagai pihak yang mengambil keputusan akhir.
"Yang jelas, BPJS tidak memutuskan. Tapi BPJS kan ikut dalam membuat skenario," ungkap Ghufron di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (15/7/2025).

Ghufron menambahkan bahwa diskusi mengenai kemungkinan kenaikan iuran BPJS Kesehatan terus bergulir. Meskipun demikian, besaran kenaikan yang akan diterapkan masih belum mencapai titik kesepakatan.
"Diskusi kan terus, (angkanya) belum disepakati, tapi diskusi jalan terus," jelasnya.
Selain membahas isu iuran, Ghufron juga menyinggung tentang kelanjutan program KRIS (Kelas Rawat Inap Standar). Ia menyatakan bahwa implementasi program tersebut mengalami penundaan, meskipun belum memberikan rincian lebih lanjut mengenai alasan penundaan tersebut.
Sebelumnya, Ghufron telah menyampaikan bahwa penyesuaian tarif iuran menjadi salah satu poin yang dibahas dalam skenario yang disusun oleh BPJS Kesehatan. Namun, ia menegaskan bahwa keputusan akhir terkait penyesuaian iuran berada di tangan pemerintah.
"Namanya skenario ya ada penyesuaian sekian, tetapi kan ini bukan pengambilan putusan dan BPJS tidak mengambil keputusan itu. BPJS itu sadar sekali apa yang dilakukan dan tahu persis punya datanya dan lain sebagainya, tapi bukan pengambil keputusan," ujarnya di Kantor Pusat BPJS Kesehatan, Jakarta Pusat, Senin (14/7/2025).
BPJS Kesehatan sendiri telah menyiapkan delapan skenario terkait keberlangsungan layanan kesehatan, yang mencakup berbagai aspek seperti iuran, jumlah peserta, hingga potensi klaim. Skenario ini juga mengantisipasi kemungkinan terjadinya klaim BPJS Kesehatan yang melebihi 100%.
"Bisa terjadi (klaim di atas 100%), tetapi nggak masalah, artinya masyarakat sangat percaya, dia nambah pakai, nambah pakai, lebih dari 100%. Kan kita sudah bikin 8 skenario, kan nggak ambil keputusan," pungkas Ghufron.




