lahatsatu.com – Indonesia bersiap menyambut gelombang besar investasi teknologi tinggi yang akan menjadi tonggak baru dalam peta digital nasional. Danantara Investment Management (DIM) tengah menyiapkan pengumuman strategis terkait sejumlah proyek raksasa, mulai dari pembangunan infrastruktur pusat data (data center) hingga pengembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Rencana besar ini dijadwalkan akan dipaparkan secara resmi dalam ajang bergengsi New Asia Forum (NAF) 2026 yang akan digelar di Bali pada awal Desember mendatang.
Managing Director Investment DIM, Stefanus Ade Hadiwidjaja, mengungkapkan bahwa fokus pada sektor infrastruktur digital dan AI merupakan langkah krusial untuk memperkuat daya saing serta kapasitas teknologi di tanah air. Menurutnya, proyek-proyek ini bukan sekadar tentang angka investasi, melainkan simbol masuknya modal skala besar ke Indonesia yang akan mengubah lanskap industri nasional.

"Kami memiliki beberapa proyek, termasuk di sektor pusat data, yang akan kami umumkan di New Asia Forum. Harapan kami, ini menjadi bukti nyata masuknya investasi skala besar ke Indonesia," ujar Stefanus dalam keterangan resminya.
Namun, Stefanus menekankan bahwa Danantara tidak hanya mengejar profitabilitas finansial semata. Setiap investasi yang dilakukan harus membawa misi besar, yakni terjadinya transfer teknologi, peningkatan kapabilitas industri lokal, serta pengembangan kualitas sumber daya manusia Indonesia agar mampu bersaing di level global.
Dalam menghadapi tren AI yang berkembang sangat cepat, DIM bersikap sangat hati-hati namun tetap progresif. Stefanus mengakui bahwa meskipun perusahaan harus bersikap prudent atau bijak dalam mengambil keputusan, Indonesia tidak boleh kehilangan momentum emas yang ditawarkan oleh revolusi kecerdasan buatan ini.
Terkait pembangunan pusat data berskala besar, DIM juga memberikan perhatian khusus pada aspek keberlanjutan lingkungan. Perusahaan mendorong penerapan prinsip Bring Your Own Energy (BYOE) dan penggunaan teknologi closed loop untuk meminimalkan konsumsi air. Hal ini dilakukan agar operasional pusat data tidak mengganggu kebutuhan air masyarakat maupun kebutuhan industrialisasi nasional. Selain itu, faktor emisi, keamanan data, dan kesiapan jaringan listrik menjadi parameter ketat dalam penilaian investasi mereka.
Selain sektor digital, Danantara juga tengah gencar melakukan ekspansi di berbagai lini strategis lainnya. Di bidang energi hijau, proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL) di Bali, Bekasi, dan Bogor kini telah memasuki tahap konstruksi. Sementara itu, di sektor pelayanan haji dan umrah, DIM telah sukses mengakuisisi Novotel Thakher Makkah serta lahan luas di kawasan Thakher untuk memperkuat fasilitas bagi jemaah Indonesia.
Tak berhenti di situ, DIM juga merambah sektor protein melalui kemitraan dengan JBS Group dengan nilai investasi mencapai US$ 2,5 miliar. Langkah ini diharapkan dapat membuka akses terhadap teknologi global dan memperkuat jaringan distribusi pangan di Indonesia dan kawasan regional. Melalui rangkaian langkah ini, Danantara berupaya menyelaraskan kebutuhan pembangunan nasional dengan arus investasi global yang berkelanjutan.




