Jakarta – Platform pinjaman online (P2P lending) KoinP2P, anak usaha Koinworks, tengah menghadapi masalah serius. Perusahaan ini diduga menjadi korban penipuan oleh seorang peminjam yang membawa kabur dana hingga Rp 365 miliar. Kasus ini telah memicu gelombang keluhan dari para pemberi pinjaman (lender) di media sosial.
KoinP2P, yang resmi beroperasi sejak 2020 dengan izin Otoritas Jasa Keuangan (OJK), fokus pada pembiayaan UMKM. Dipimpin oleh Jonathan Bryan (Direktur Utama), Bernard Adrianto Arifin (Direktur Operasional), dan Benedicto Haryono (Komisaris sekaligus pendiri Koinworks), perusahaan ini telah menyalurkan kredit lebih dari Rp 34,2 triliun kepada lebih dari 11 ribu UMKM. Namun, sekitar Rp 2 triliun di antaranya belum dilunasi.

Tingkat keberhasilan pembayaran kurang dari 90 hari (TKB90) tercatat sebesar 91,11%, sementara tingkat wanprestasi lebih dari 90 hari (TWP90) mencapai 8,89%, melampaui batas yang ditetapkan OJK sebesar 5%. KoinP2P menawarkan imbal hasil hingga 18% kepada lender dengan modal awal Rp 100 ribu, menarik hampir 13 ribu lender aktif untuk mendanai 32.381 peminjam.
Modus penipuan diduga dilakukan oleh seorang pemilik grup bisnis FMCG berinisial M yang sejak 2019 mengambil pendanaan dari KoinP2P, namun gagal mengembalikan dana pinjaman yang disalurkan ke UMKM. KoinP2P telah melaporkan kasus ini ke kepolisian dan OJK. Meskipun Reputasi ID telah berupaya mengkonfirmasi kronologi kejadian kepada Direktur KoinP2P dan Koinworks, hingga saat ini belum ada tanggapan resmi.
Dalam keterangan persnya, KoinP2P menyatakan menjadi korban dan berkomitmen meminimalkan kerugian para lender. Perusahaan juga telah memberlakukan standstill sementara untuk penataan ulang dan penguatan fondasi, serta telah mendapatkan suntikan modal baru. KoinP2P membuka akses komunikasi melalui telepon dan surel untuk menjawab pertanyaan nasabah dan memastikan operasional tetap aman melalui audit berkala. Mereka juga menghimbau para nasabah untuk tetap tenang.
Sementara itu, beberapa lender di media sosial mengungkapkan kekhawatiran mereka, dengan beberapa mengaku dana mereka tertahan dan mengalami penurunan tingkat pengembalian. Pihak Koinworks memastikan bahwa anak usaha lainnya tidak terdampak insiden ini.




























