lahatsatu.com – Isu mengenai kondisi ekonomi nasional yang dikabarkan sedang berada di ambang krisis mulai memicu kekhawatiran di tengah masyarakat. Menanggapi kegaduhan tersebut, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Novyan Bakrie, memberikan klarifikasi tegas untuk menenangkan publik. Menurutnya, narasi mengenai krisis tersebut tidak sejalan dengan data fundamental ekonomi yang dimiliki Indonesia saat ini.
Dalam acara Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Kadin Indonesia yang digelar di Hotel Borobudur, Jakarta, Anindya menekankan bahwa masyarakat tidak perlu terjebak dalam spekulasi yang tidak berdasar. Ia mengajak semua pihak untuk kembali meninjau angka-angka riil yang menunjukkan ketahanan ekonomi nasional. Ia membandingkan kondisi saat ini dengan periode krisis hebat yang pernah dialami Indonesia sebelumnya.

"Banyak yang bertanya kepada kami, apakah Indonesia sedang di ambang krisis? Menurut pandangan kami, lebih baik kita melihat kembali ke fundamental ekonomi. Jika kita bandingkan dengan tahun 1998 saat ekonomi terkontraksi hingga minus 13 persen, atau saat pandemi COVID-19 tahun 2020 yang mengalami kontraksi 2,1 persen, maka kondisi sekarang sangat berbeda. Saat ini, ekonomi kita tumbuh positif di angka 5,1 persen," ujar Anindya dengan lugas.
Anindya mengakui bahwa memang terdapat tekanan di sektor pasar modal dan keuangan. Fenomena arus modal asing yang keluar hingga mencapai Rp 124 triliun, pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), hingga fluktuasi nilai tukar dolar Amerika Serikat yang menyentuh angka Rp 18.170 per US$ memang menjadi tantangan nyata. Namun, ia mengingatkan agar tekanan tersebut tidak menutupi fakta kekuatan ekonomi lainnya.
Ia memaparkan sejumlah indikator positif, di antaranya realisasi Penanaman Modal Asing (PMA) yang mencapai Rp 270 triliun, pertumbuhan rata-rata laba bersih emiten sebesar 16 persen, cadangan devisa yang kokoh di angka US$ 146 miliar, serta pertumbuhan kredit yang mencapai 13,3 persen secara tahunan. "Kita tidak menutup mata terhadap tantangan yang ada, hal itu memang harus diwaspadai. Namun, kembali ke fundamental adalah cara paling tepat agar kita tidak terpengaruh oleh hingar-bingar berita yang belum tentu benar," tambahnya.
Lebih lanjut, Anindya menjelaskan bahwa ketidakpastian ekonomi global memang sedang terjadi. Banyak negara maju mulai melakukan langkah antisipasi darurat. Amerika Serikat, misalnya, mulai membangun cadangan bahan bakar minyak (BBM), sementara pemerintah Inggris mengimbau warganya untuk mandiri selama 72 jam guna menghadapi situasi darurat.
Menghadapi situasi global yang tidak menentu, Indonesia terus berupaya memperkuat kemandirian di sektor-sektor krusial seperti pangan, air, dan energi. Hal inilah yang membuat Indonesia tetap dipandang sebagai "titik terang" atau bright spot di tengah ketidakpastian dunia. Predikat ini bukan sekadar klaim sepihak, melainkan pengakuan dari lembaga internasional seperti IMF. Anindya optimistis bahwa daya tahan Indonesia, baik dari sisi data maupun kekayaan alam, akan menjaga stabilitas ekonomi nasional di masa depan.




