lahatsatu.com – Pemerintah Indonesia tengah bersiap melakukan transformasi besar dalam sektor energi nasional. Salah satu langkah strategis yang tengah digodok adalah pengenalan Compressed Natural Gas (CNG) dalam kemasan 3 kilogram sebagai alternatif utama untuk menggantikan peran LPG 3 kilogram yang selama ini menjadi tumpuan masyarakat.
Langkah berani ini diambil sebagai bagian dari upaya pemerintah untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor energi yang selama ini membebani anggaran negara. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) saat ini tengah melakukan serangkaian uji coba teknis terhadap CNG 3 kg di Lemigas guna memastikan keamanan dan efektivitasnya sebelum dilepas ke pasar luas.

Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM, Ahmad Erani Yustika, mengungkapkan bahwa transisi energi ini direncanakan mulai berjalan pada tahun depan. Menurutnya, kehadiran CNG diharapkan dapat menekan volume penggunaan LPG 3 kg secara signifikan. Dalam proyeksi pemerintah, penggunaan LPG 3 kg ditargetkan turun menjadi sekitar 8.000 ribu metrik ton (MT).
"Tahun depan kita akan mulai memperkenalkan CNG dan langkah-langkah lainnya. Ini adalah bagian dari strategi besar kita dalam mengelola energi nasional," ujar Erani saat memberikan keterangan di Jakarta.
Tidak hanya fokus pada CNG, pemerintah juga tengah menyiapkan berbagai program pendukung transisi energi lainnya. Erani menjelaskan bahwa program kompor listrik akan mulai digalakkan tahun depan. Selain itu, pemerintah juga berkomitmen memperluas jaringan gas (jargas) melalui pembangunan transmisi pipa di berbagai wilayah Indonesia untuk memperkuat infrastruktur energi domestik.
"Pemerintah sedang mengupayakan berbagai jalur, mulai dari pembangunan jargas, transmisi pipa, hingga pengembangan kompor listrik. Semua ini bertujuan agar distribusi energi lebih efisien dan mandiri," tambahnya.
Kebijakan transisi ini juga berkaitan erat dengan efisiensi anggaran subsidi energi dalam Rancangan APBN 2027. Berdasarkan hasil pembahasan di Badan Anggaran Dasar DPR, alokasi subsidi energi disepakati sebesar Rp 261,50 triliun. Angka ini menunjukkan penurunan dibandingkan usulan awal pemerintah, yang dipicu oleh rencana pengurangan volume subsidi pada BBM dan LPG.
Ketua Badan Anggaran Dasar DPR, Said Abdullah, merinci bahwa subsidi untuk LPG 3 kg diproyeksikan sebesar Rp 103,05 triliun, sementara subsidi BBM jenis tertentu (JBT) sebesar Rp 28,34 triliun. Penurunan alokasi ini merupakan konsekuensi logis dari target penurunan volume konsumsi LPG 3 kg dan solar yang akan dilakukan melalui program-program substitusi energi tersebut.
Pemerintah menegaskan bahwa jika nantinya kebutuhan energi di lapangan tidak sesuai dengan asumsi yang telah ditetapkan, maka akan dilakukan pembahasan lebih lanjut untuk menyesuaikan kebijakan agar tetap menjaga stabilitas energi bagi masyarakat.




