lahatsatu.com – Fenomena alam El Nino kini tengah menjadi momok menakutkan bagi stabilitas pangan global. Cuaca ekstrem yang memicu kekeringan panjang di berbagai belahan dunia telah mengancam produksi beras secara masif, yang pada akhirnya memicu lonjakan harga di pasar internasional. Di tengah ketidakpastian global ini, Indonesia justru menunjukkan taringnya dengan memperkuat ketahanan pangan nasional melalui pencapaian swasembada yang lebih cepat dari target semula.
Laporan terbaru dari Bloomberg menyoroti bahwa harga acuan beras di kawasan Asia telah menyentuh level tertinggi dalam kurun waktu hampir dua tahun. Tekanan inflasi pangan ini dipicu oleh gangguan produksi di negara-negara produsen utama akibat cuaca kering yang ekstrem. Sebagai contoh, harga beras putih Thailand dengan tingkat pecahan 5 persen dilaporkan telah mencapai angka US$499 per ton, sebuah angka yang menandakan tekanan berat pada pasar global.

Kondisi ini semakin diperparah dengan data dari Chicago yang menunjukkan kontrak berjangka beras kasar melonjak lebih dari 80 persen sejak awal tahun 2026. Ironisnya, kenaikan tajam pada komoditas beras ini terjadi di saat harga biji-bijian lain seperti jagung dan gandum justru mengalami tren penurunan. Hal ini menunjukkan bahwa krisis beras memiliki dinamika tersendiri yang sangat dipengaruhi oleh faktor iklim di Asia Selatan dan Asia Tenggara, wilayah yang menyumbang lebih dari separuh produksi beras dunia.
Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) serta Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) juga memberikan peringatan serupa. Mereka memprediksi akan terjadi penurunan produksi beras global pada musim mendatang, sebuah fenomena yang jarang terjadi dalam satu dekade terakhir. Dampak nyata sudah mulai dirasakan oleh konsumen di Filipina, di mana harga beras melonjak hingga 21 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Namun, di tengah badai krisis pangan dunia, Indonesia justru berada dalam posisi yang cukup aman. Berkat kebijakan strategis Presiden Prabowo Subianto yang memprioritaskan swasembada pangan, Indonesia berhasil mencatatkan produksi beras nasional sebesar 34,69 juta ton pada tahun 2025. Angka ini menunjukkan pertumbuhan signifikan sebesar 13,29 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menjelaskan bahwa total ketersediaan beras nasional saat ini mencapai sekitar 25 juta ton. Cadangan ini tersebar di berbagai lini, mulai dari stok di Bulog sebesar 4,5 juta ton, potensi tanaman padi yang siap panen (standing crop) sebanyak 10 juta ton, hingga stok di sektor perhotelan, restoran, dan katering (Horeka) sebesar 10 juta ton. Dengan kebutuhan nasional yang berada di angka 2,5 juta ton per bulan, stok yang ada dipastikan mampu mencukupi kebutuhan masyarakat hingga pertengahan tahun 2027.
Amran menegaskan bahwa kemandirian pangan adalah benteng pertahanan terkuat bangsa dalam menghadapi konflik geopolitik maupun gangguan rantai pasok dunia. "Kita tidak boleh bergantung pada negara lain untuk urusan pangan. Swasembada adalah kekuatan dan perlindungan bagi bangsa," tegasnya.
Untuk memastikan keberlanjutan produksi di tengah ancaman El Nino, pemerintah tidak tinggal diam. Langkah-langkah teknis seperti optimalisasi lahan, program pompanisasi, perbaikan irigasi, hingga penggunaan benih tahan kekeringan terus digencarkan. Selain itu, dukungan nyata diberikan kepada petani melalui peningkatan alokasi pupuk bersubsidi dan kebijakan harga pembelian gabah yang menguntungkan. Langkah ini diharapkan dapat menjaga stabilitas harga sekaligus memastikan kedaulatan pangan Indonesia tetap terjaga di tengah gejolak dunia.




