Rival Google, Yandex, resmi meninggalkan pasar Rusia pada Februari lalu. Perusahaan teknologi asal Belanda ini kini berencana untuk masuk ke pasar Indonesia dan membangun pusat data di sini.
Keputusan Yandex untuk keluar dari Rusia muncul setelah pendiri perusahaan, Arkady Volozh, mengkritik keras invasi Rusia ke Ukraina. Hal ini memicu reaksi negatif dari Kremlin yang mengancam untuk menasionalisasi Yandex.

Meskipun bisnis pencarian Yandex akan tetap berada di Rusia di bawah kendali Kremlin, Yandex Group, anak usaha Yandex NV, kini menaruh minat untuk berinvestasi di Indonesia.
Wakil Menteri Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Nezar Patria, mengungkapkan bahwa Yandex telah bertemu dengan Komdigi pada awal November lalu.
"Salah satu perusahaan yang mau berinvestasi yakni Yandex," ujar Nezar.
Yandex belum merinci nilai investasi yang akan digelontorkan di Indonesia. Namun, perusahaan ini tertarik untuk membangun infrastruktur seperti pusat data, serta mengembangkan talenta digital dan kecerdasan buatan (AI) di sini.
Meski demikian, Nezar menegaskan bahwa Yandex harus mematuhi peraturan yang berlaku di Indonesia, termasuk pencegahan peredaran konten negatif.
Sebelumnya, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) sempat berencana memblokir platform Yandex pada Januari 2023. Hal ini terkait dengan kasus pembunuhan seorang anak di Makassar yang terinspirasi oleh situs penjualan organ manusia di Yandex.
"Yandex menempati urutan pertama sebagai browser paling tidak aman menurut survei yang dilakukan oleh situs ExpressVPN," kata Usman Kansong, yang saat itu menjabat Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kominfo.
Usman mengatakan bahwa Yandex akan diblokir jika tidak memenuhi kriteria yang ditetapkan dalam perundangan-undangan.
Kini, Yandex tampaknya ingin memulai lembaran baru di Indonesia. Kehadiran Yandex di Indonesia diharapkan dapat mendorong perkembangan teknologi dan digitalisasi di Tanah Air.




