Investasi Besar di AI, Meta dan Microsoft Umumkan Rencana PHK Massal

Jakarta, Lahatsatu.com – Dua raksasa teknologi asal Amerika Serikat, Meta dan Microsoft, baru-baru ini mengumumkan rencana pemutusan hubungan kerja (PHK) yang signifikan. Langkah ini berpotensi

Agus sujarwo

Investasi Besar di AI, Meta dan Microsoft Umumkan Rencana PHK Massal

Jakarta, Lahatsatu.com – Dua raksasa teknologi asal Amerika Serikat, Meta dan Microsoft, baru-baru ini mengumumkan rencana pemutusan hubungan kerja (PHK) yang signifikan. Langkah ini berpotensi menghilangkan hingga 20.000 pekerjaan, mengikuti jejak Amazon yang sebelumnya juga mengumumkan PHK besar-besaran.

Menurut laporan CNBC, Minggu (26/4/2026), perusahaan-perusahaan ini telah menginvestasikan ratusan miliar dolar setiap tahunnya untuk membangun infrastruktur kecerdasan buatan (AI) guna memenuhi lonjakan permintaan layanan AI. Kini, mereka berupaya meningkatkan efisiensi melalui AI, salah satunya dengan mengurangi jumlah karyawan.

Investasi Besar di AI, Meta dan Microsoft Umumkan Rencana PHK Massal
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Selain itu, Meta dan Microsoft masih berupaya menyesuaikan ukuran perusahaan setelah melakukan perekrutan berlebihan selama pandemi COVID-19.

Kekhawatiran akan krisis tenaga kerja semakin meningkat di kalangan ekonom dan pakar industri, mengingat pesatnya penyebaran AI di berbagai perusahaan di Amerika. Data dari Layoffs.fyi menunjukkan bahwa lebih dari 92.000 pekerja teknologi telah kehilangan pekerjaan mereka pada tahun 2026. Sejak tahun 2020, jumlah PHK di sektor teknologi AS telah mencapai hampir 900.000 pekerja.

"Ini adalah pergeseran struktural mendasar, bukan sekadar koreksi pasar sementara. Kita menyaksikan awal dari transformasi permanen dalam cara kerja diorganisasikan dan dieksekusi di berbagai industri," ujar Anthony Tuggle, seorang pelatih eksekutif dan pakar kepemimpinan yang memiliki pengalaman di bidang AI.

Peluncuran ChatGPT oleh OpenAI pada akhir tahun 2022 telah memicu kecemasan akan hilangnya pekerjaan. Namun, para pendukung kemajuan teknologi berpendapat bahwa AI sedang membentuk kembali pekerjaan manusia, bukan menggantikannya. Seperti gelombang disrupsi industri sebelumnya, pekerjaan baru akan tercipta untuk memenuhi kebutuhan ekonomi yang berubah.

Sebuah studi dari Motion Recruitment tahun 2026 menunjukkan bahwa adopsi AI oleh perusahaan memperlambat perekrutan untuk posisi tingkat pemula dan peran IT umum. Sebaliknya, banyak perusahaan membuka posisi ahli khusus AI. Laporan tersebut juga mencatat bahwa gaji di bidang teknologi sebagian besar stagnan dibandingkan tahun 2025, kecuali untuk beberapa pekerjaan khusus seperti insinyur AI.

Rajat Bhageria, CEO dari startup AI fisik Chef Robotics, menyatakan bahwa meskipun AI kemungkinan akan menciptakan lapangan kerja, bentuknya saat ini masih belum pasti. "Kita baru mulai memahami seberapa banyak pekerjaan harian kita yang dapat ditangani AI untuk kita di berbagai jenis pekerjaan," kata Bhageria.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Klik Laporkan. Terima Kasih
Laporkan

Tags

Related Post

Tinggalkan komentar