Jakarta – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) berkolaborasi dengan TikTok Indonesia dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) dalam program peningkatan kesadaran dan literasi kesehatan mental di Indonesia. Program yang melibatkan sejumlah influencer ternama ini akan berlangsung dari November 2024 hingga April 2025.
Langkah ini dipicu oleh data Survei Indonesia – National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) 2022 yang mengungkap fakta mengejutkan: satu dari tiga remaja (34,9%) atau sekitar 15,5 juta remaja di Indonesia mengalami masalah kesehatan mental. Ironisnya, hanya 2,6% yang mengakses layanan kesehatan mental atau konseling.

Program kolaboratif ini memanfaatkan kekuatan media sosial dengan melibatkan para kreator konten lokal tergabung dalam jaringan Fides, seperti Farhan Zubaedi, Santi Yuliani, dan Lucky Yogasatria. Tugas mereka adalah menerjemahkan informasi ilmiah kompleks tentang kesehatan mental menjadi konten video yang mudah dipahami oleh masyarakat luas. Strategi ini selaras dengan riset YouGov dan TikTok 2022 yang menunjukkan 77% responden Indonesia merasa nyaman membahas isu kesehatan mental.
Selain para influencer, program ini juga melibatkan organisasi nirlaba Into The Light Indonesia untuk memastikan informasi yang disebarluaskan akurat dan berbasis ilmiah. TikTok dan WHO juga menyediakan pelatihan bagi kreator terpilih dalam program Mindful Makers, termasuk dr. Clarin Hayes, Meisya Salwa, Halimah, Eva Alicia, Indah SJ, M.Psi., Wiwi Fauziah, dan dr. Agus Prasetyo (dr. Pras), untuk memastikan kredibilitas konten yang dihasilkan.
"Kami percaya pendekatan kolaboratif antara platform digital, pemerintah, kreator, dan organisasi nirlaba sangat penting, karena kompleksitas isu kesehatan mental tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja," tegas Marshiella Pandji, Public Policy & Government Relations TikTok Indonesia.
Wakil Menteri Kemen PPPA, Veronica Tan, menambahkan bahwa kementeriannya memiliki 301 layanan Puspaga (Pusat Pembelajaran Keluarga) yang siap menjadi garda terdepan dalam memberikan konseling awal dan rujukan ke layanan kesehatan mental dan psikososial.
Sementara itu, Deputi Perwakilan WHO untuk Indonesia, Dr. Momoe Takeuchi, menekankan peran penting jaringan Fides WHO dalam menyebarkan informasi kesehatan mental yang kredibel di media sosial. "Kami berharap program ini mendorong kaum muda untuk lebih nyaman berdiskusi dan mencari dukungan terkait kesehatan mental, demi masa depan yang lebih sehat," harapnya.




























