lahatsatu.com – Kawasan Dukuh Atas selama ini telah lama menjadi jantung mobilitas Jakarta. Setiap harinya, ribuan pasang kaki melintasi kawasan ini, berpindah dari satu moda transportasi ke moda lainnya, mulai dari MRT, KRL, hingga TransJakarta. Namun, selama ini Dukuh Atas seolah hanya menjadi tempat persinggahan sementara—sebuah titik transit yang ramai, namun belum benar-benar "hidup" sebagai sebuah destinasi.
Kini, paradigma tersebut mulai berubah. Melalui konsep Transit Oriented Development (TOD), MRT Jakarta tengah berupaya menyulap Dukuh Atas agar tidak sekadar menjadi tempat orang lewat, melainkan menjadi ruang publik yang mampu menggerakkan ekonomi dan gaya hidup perkotaan.

Division Head Property Management PT MRT Jakarta (Perseroda), M Iqbal Bimo Arifianto, menjelaskan bahwa peran transportasi publik tidak boleh berhenti hanya pada penyediaan stasiun. Transportasi harus menjadi katalisator yang menghidupkan kawasan di sekitarnya. "Kita tidak hanya membawa masyarakat dari satu titik ke titik lain, tetapi juga mendorong kawasan tersebut tumbuh menjadi bagian dari kehidupan kota," ujar Bimo dalam sebuah diskusi di Jakarta Pusat.
Transformasi ini terlihat nyata pada proyek Transport Hub Dukuh Atas. Jika dahulu kawasan tersebut dikenal sebagai Pasar Blora yang merupakan pasar basah, kini wajahnya telah berubah total. Bangunan mixed-use setinggi 12 lantai tersebut kini berdiri megah, menawarkan berbagai fasilitas mulai dari hotel, pusat kebugaran (gym), area perkantoran, hingga institusi pendidikan.
Menariknya, pengembangan ini tidak dilakukan secara asal. MRT Jakarta menerapkan metode Know Your Customer (KYC) untuk memahami kebutuhan nyata masyarakat. Hasil survei menunjukkan bahwa banyak pekerja dan komuter membutuhkan ruang makan yang nyaman dan ber-AC di tengah hiruk-pikuk kota. Menjawab kebutuhan tersebut, area food court di dalam Transport Hub kini menjadi primadona.
Keberhasilan strategi ini mulai terlihat dari angka. Hingga September 2026, tercatat jumlah pengunjung harian di Transport Hub Dukuh Atas telah menembus angka 2.700 orang, dengan tingkat keterisian penyewa (tenant occupancy) mencapai 88 persen.
Meski demikian, tantangan besar masih membentang. Berbeda dengan kawasan Blok M yang pengembangannya lebih terkontrol, area di sekitar Dukuh Atas melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Bimo mengakui bahwa akses pejalan kaki dari stasiun menuju Transport Hub tidak sepenuhnya berada di bawah pengelolaan MRT Jakarta, sehingga kolaborasi dengan Pemerintah Kota menjadi kunci utama.
Sebagai langkah penyempurna, MRT Jakarta tengah menyiapkan proyek ambisius berupa Pedestrian Deck Dukuh Atas. Proyek jembatan berbentuk cincin dengan diameter 100 meter ini akan dibangun di sekitar area Patung Jenderal Sudirman. Proyek ini ditargetkan mulai dikonstruksi pada November 2026 dan selesai pada 2028.
Dengan integrasi enam moda transportasi utama—MRT, LRT Jakarta, LRT Jabodebek, TransJakarta, Kereta Bandara, hingga KRL—Dukuh Atas diproyeksikan akan menjadi simpul transportasi paling lengkap di Jakarta. Harapannya, kawasan ini tidak lagi hanya menjadi tempat orang datang dan pergi, tetapi menjadi destinasi utama di mana orang datang untuk bertemu, bekerja, dan menikmati kehidupan kota.




