Hanoi, Vietnam – Pemerintah Vietnam mengambil langkah tegas untuk menekan konsumsi alkohol di negaranya. Majelis Nasional Vietnam telah menyetujui rencana kenaikan pajak konsumsi khusus (excise tax) untuk minuman beralkohol, termasuk bir, hingga mencapai 90% pada tahun 2031.
Keputusan ini, yang disahkan pada hari Sabtu (14/06/2025), akan dilakukan secara bertahap. Pada tahun 2027, tarif pajak akan naik menjadi 70%, sebelum akhirnya mencapai puncaknya di angka 90% empat tahun kemudian. Kenaikan ini sedikit lebih lambat dari usulan awal, namun tetap menjadi sinyal kuat komitmen pemerintah untuk mengurangi konsumsi alkohol.

Kementerian Keuangan Vietnam menyatakan bahwa tujuan utama dari kenaikan pajak ini adalah untuk mengekang konsumsi alkohol di kalangan masyarakat. Vietnam sendiri merupakan pasar bir terbesar kedua di Asia Tenggara, menurut laporan konsultan KPMG pada tahun 2024.
Kebijakan ini diperkirakan akan memberikan tantangan tambahan bagi industri bir Vietnam, yang didominasi oleh pemain besar seperti Heineken (Belanda), Carlsberg (Denmark), serta produsen lokal Sabeco dan Habeco.
Industri bir di Vietnam sebelumnya telah menghadapi tekanan akibat regulasi yang melarang mengemudi dalam keadaan mabuk sejak tahun 2019. Aturan yang menetapkan batas nol alkohol bagi pengemudi ini memaksa masyarakat untuk mengurangi konsumsi bir.
Kepala Asosiasi Bir dan Minuman Beralkohol Vietnam mengungkapkan bahwa pendapatan industri telah mengalami penurunan selama tiga tahun terakhir. Bahkan, Heineken telah menghentikan operasi di salah satu pabrik birnya di Vietnam tahun lalu sebagai respons terhadap melemahnya permintaan dan potensi kenaikan pajak.




























