Purwokerto – Di tengah persaingan pasar yang semakin ketat, sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) justru menunjukkan ketangguhannya. Dengan inovasi dan kualitas yang terjaga, UMKM terus berupaya untuk berkembang dan menjangkau pasar yang lebih luas.
Di Desa Bawang, Banjarnegara, UMKM pengolah mocaf (modified cassava flour) menjadi contoh nyata kekuatan pangan lokal. Mereka berhasil mengubah singkong menjadi produk bernilai tinggi dan membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat setempat.

Riza Azyumarridha Azra, pendiri PT Rumah Mocaf Indonesia, memulai usahanya pada tahun 2015 setelah mendengar keluhan petani tentang harga singkong yang sangat rendah. "Saat itu, singkong hanya dihargai Rp 200 per kg, membuat petani enggan memanen," ujarnya. Riza melihat potensi besar dalam pengolahan singkong menjadi mocaf, tepung singkong yang telah dimodifikasi.
Kini, Rumah Mocaf Indonesia telah memiliki 33 karyawan tetap dan memberdayakan masyarakat sekitar. Mereka bekerja sama dengan sekitar 1.000 petani dari berbagai desa sebagai pemasok singkong. "Kami membeli singkong dengan harga di atas standar nasional, yaitu Rp 1.500 per kg," kata Riza.
Tidak hanya sukses di pasar lokal, Rumah Mocaf Indonesia juga berhasil menembus pasar global. Dengan dukungan Bank Indonesia (BI) melalui Kantor Perwakilan BI (KPwBI) Purwokerto, Riza membuka toko di platform Alibaba dan mendapatkan banyak pembeli dari mancanegara.
"BI memfasilitasi kami untuk membuka lapak di Alibaba. Dari situ, kami mendapatkan banyak pembeli dari luar negeri," ungkapnya. Selain itu, Riza juga sering mengikuti pameran di dalam dan luar negeri yang difasilitasi oleh Bank Indonesia.
Baru-baru ini, Rumah Mocaf Indonesia melakukan ekspor ke China dan menandatangani MoU dengan pembeli di Dubai senilai USD 1,3 juta atau sekitar Rp 20 miliar per tahun. "Hingga kini, ekspor ke Turki masih terus berlanjut," tambahnya.
Pertanian Organik Banyumas yang Mandiri
Di Kabupaten Banyumas, tepatnya di Desa Dawuhan, para petani berhasil mengembangkan pertanian organik. Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Marsudi Among Tani, Slamet, mengatakan bahwa budidaya ini berawal dari kekhawatiran akan kerusakan tanah yang menyebabkan penurunan produksi beras.
"Awalnya karena rusaknya tanah dan sulitnya mendapatkan pupuk, sehingga kami memutuskan untuk bertani organik," ungkap Slamet.
Sejak tahun 2017, para petani mulai bertani organik dan kini telah menggarap lahan seluas 5 hektare. Selain menghasilkan beras organik, Gapoktan Marsudi Among Tani juga menghasilkan produk turunan, termasuk pupuk organik.
Keberhasilan ini tidak lepas dari bantuan rice milling unit dari Bank Indonesia. Selain itu, Bank Indonesia juga memberikan bantuan alat produksi dan pelatihan inovasi produk.
Melestarikan Batik Banyumas
Selain potensi pangan lokal, Banyumas juga memiliki warisan budaya yang kaya, yaitu batik Banyumas. Slamet Hadipriyanto, pemilik Galeri Batik Banyumas Hadipriyanto, terus berupaya melestarikan warisan kain tradisional ini.
"Dalam melestarikan batik, tantangannya adalah ketidakpopuleran batik Banyumas dan kesulitan mengikuti perkembangan model," ucap Slamet.
Dengan dukungan Bank Indonesia, Slamet mengembangkan usahanya hingga merambah batik printing, cap, dan tenun. Kini, produk Batik Banyumas Hadipriyanto telah dikenal masyarakat luas dan memanfaatkan pemasaran digital.
Dukungan Bank Indonesia untuk UMKM
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Purwokerto, Christoveny, mengatakan bahwa kontribusi UMKM terhadap pertumbuhan ekonomi di wilayah kerjanya mencapai 70%.
"Hampir 70 persen pangsa perekonomian daerah berasal dari UMKM. Pertumbuhan ekonomi Banyumas saat ini, 6,8 persen, juga merupakan kontribusi dari UMKM," jelasnya.
Bank Indonesia terus memberikan bantuan intensif kepada UMKM, mulai dari pembinaan hingga bantuan alat, serta pendampingan agar UMKM bisa go digital.




