lahatsatu.com – Bank Indonesia (BI) kini tak lagi memandang uang kertas yang tak layak edar sebagai sekadar limbah. Dengan visi ekonomi sirkular yang ambisius, bank sentral ini berhasil menyulap tumpukan uang bekas menjadi berbagai produk bernilai tinggi, bahkan sumber energi. Inovasi ini bukan hanya mengurangi sampah, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru yang menjanjikan. Saat ini, 72% dari limbah uang kertas sudah diolah, dan BI menargetkan angka fantastis 100% pada tahun 2027, menandai komitmen serius terhadap keberlanjutan lingkungan dan perekonomian nasional.
Transformasi luar biasa ini terwujud melalui kolaborasi strategis. BI menggandeng berbagai Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) untuk mengubah sisa uang menjadi cenderamata unik dan menarik, menciptakan nilai ekonomi langsung bagi pelaku usaha lokal. Tak hanya itu, bank sentral juga bermitra dengan perusahaan pengolahan energi, memungkinkan limbah racik uang kertas diolah menjadi tambahan sumber energi listrik atau bahan bakar industri. Langkah ini menegaskan bahwa pengelolaan Rupiah kini memberikan manfaat ganda, baik bagi lingkungan maupun pertumbuhan ekonomi.

Deputi Gubernur Bank Indonesia Ricky P. Gozali menegaskan bahwa pengelolaan uang tidak berhenti saat lembaran Rupiah tidak lagi layak edar. "Ketika uang tidak lagi layak edar, pertanyaannya bukan lagi sekadar bagaimana memusnahkannya, tetapi bagaimana memberikan nilai baru melalui pemanfaatan yang produktif," ujar Ricky dalam pernyataan resminya, Senin 17 Agustus 2026. Pernyataan ini mencerminkan kesadaran BI akan tuntutan keberlanjutan lingkungan yang semakin mendesak. Untuk menjawab tantangan tersebut, BI telah melakukan transformasi ramah lingkungan dalam setiap tahapan, mulai dari pencetakan, pengedaran, hingga pemusnahan uang Rupiah. Inovasi ini bahkan telah diganjar penghargaan bergengsi International Association of Currency Affairs (IACA) Award 2026.
Fenomena pengelolaan uang berkelanjutan ini bukan hanya terjadi di Indonesia. Bank sentral di berbagai negara regional juga aktif berinovasi. Bank Negara Malaysia (BNM) misalnya, turut mengolah limbah racik uang menjadi beragam produk. Sementara itu, Bank of Thailand memilih untuk menggunakan bahan kertas yang lebih tahan lama, bertujuan memperpanjang masa edar uang dan mengurangi frekuensi pencetakan ulang. Berbagai pengalaman ini menjadi topik hangat dalam BRIDGE 2026, sebuah forum dialog internasional yang mempertemukan ekosistem pengelolaan uang dari berbagai negara. Diselenggarakan oleh Bank Indonesia sebagai bagian dari FERBI 2026 di Istora Senayan Jakarta pada 13 Agustus, forum ini dihadiri oleh perwakilan bank sentral dan otoritas moneter dari India, Malaysia, Thailand, Filipina, dan Papua Nugini, serta para pelaku industri uang tunai internasional. Ini menunjukkan bahwa keberlanjutan telah menjadi agenda utama dalam pengelolaan uang di kancah global.




