lahatsatu.com – Dunia internasional tengah menyoroti langkah mengejutkan yang diambil oleh dua kekuatan ekonomi terbesar di dunia, Amerika Serikat dan China. Dalam pertemuan tingkat tinggi yang berlangsung di Washington, Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping berhasil mencapai konsensus penting yang diharapkan dapat meredam ketegangan perdagangan global yang telah berlangsung lama.
Salah satu poin paling krusial dalam pertemuan empat mata tersebut adalah kesepakatan untuk melakukan pemangkasan tarif timbal balik dengan nilai yang fantastis, yakni mencapai US$ 30 miliar atau setara dengan Rp 531 triliun. Langkah ini dipandang sebagai angin segar bagi stabilitas ekonomi global, mengingat perseteruan dagang antara kedua negara selama ini kerap memicu fluktuasi pasar di berbagai belahan dunia.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, kesepakatan ini merupakan bagian dari delapan poin konsensus yang dirumuskan selama kunjungan resmi Xi Jinping ke Amerika Serikat. Selain urusan tarif, kedua pemimpin negara juga sepakat untuk memperkuat kerja sama di sektor teknologi masa depan, khususnya mengenai pengembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Kedua belah pihak menyadari bahwa teknologi AI membawa potensi manfaat sekaligus risiko yang sangat besar, sehingga dialog berkelanjutan menjadi sebuah keharusan.
Kementerian Luar Negeri China mengonfirmasi bahwa selain pengurangan tarif, kedua negara juga sepakat untuk membentuk dewan perdagangan baru. Dewan ini nantinya akan berfungsi untuk mengawal implementasi hasil pembicaraan sebelumnya yang telah dimulai di Kuala Lumpur. Langkah ini menunjukkan adanya keinginan kuat dari Washington dan Beijing untuk membangun mekanisme komunikasi yang lebih terstruktur dalam menangani sengketa ekonomi.
Terkait stabilitas pasar, kesepakatan ini juga mencakup perpanjangan masa gencatan senjata perdagangan selama dua bulan ke depan. Sebelumnya, masa tenang dalam perang dagang ini dijadwalkan akan berakhir pada 10 November. Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, memberikan pernyataan bahwa perpanjangan tenggat waktu ini sangat krusial. Menurutnya, tambahan waktu tersebut akan memberikan ruang bagi kedua negara untuk merumuskan kesepakatan perdagangan yang lebih komprehensif dan memberikan keuntungan maksimal bagi kedua belah pihak.
Dalam bidang teknologi, diskusi mengenai AI dijadwalkan akan memasuki putaran selanjutnya pada bulan November mendatang. Fokus utama dari dialog tersebut adalah membedah risiko keamanan serta memaksimalkan manfaat teknologi bagi kemanusiaan.
Tak hanya fokus pada ekonomi dan teknologi, kedua pemimpin juga menyentuh isu geopolitik global. Mereka sepakat untuk saling mendukung dalam menyukseskan pertemuan penting seperti APEC dan KTT G20. Dalam hal kebijakan luar negeri, Trump dan Xi Jinping juga menyatakan sikap tegas mengenai isu nuklir Iran dan menekankan pentingnya kebebasan navigasi di jalur perairan internasional tanpa adanya bea transit yang memberatkan. Kesepakatan ini menandai babak baru dalam hubungan diplomatik antara dua raksasa dunia tersebut.




