lahatsatu.com – Pemerintah Indonesia tengah menyiapkan langkah besar untuk merevolusi sektor peternakan nasional melalui pembangunan infrastruktur industri yang masif. Tidak tanggung-tanggung, Kementerian Pertanian berencana membangun tiga pabrik pengolahan tepung telur dan tepung daging guna menciptakan ekosistem peternakan yang lebih tangguh dan mandiri.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkapkan bahwa proyek strategis ini merupakan bagian dari visi jangka panjang pemerintah untuk memperkuat rantai produksi dari hulu hingga ke hilir. Selama ini, sektor peternakan sering kali menghadapi tantangan klasik, yakni ketidakpastian harga dan penumpukan stok saat produksi melimpah. Dengan adanya pabrik pengolahan ini, pemerintah ingin memastikan seluruh proses, mulai dari penyediaan bahan pakan, produksi di tingkat peternak, hingga penyerapan hasil ternak, dapat berjalan secara berkesinambungan.

"Kami telah berkoordinasi dengan pihak BUMN dan Menteri Perdagangan. Kami semua sepakat untuk membangun ekosistem ternak yang terintegrasi, terutama melalui pembangunan pabrik pengolahan tepung telur dan tepung daging," ujar Amran dalam keterangannya. Ia menargetkan proyek ini dapat mulai berjalan pada tahun depan dengan estimasi waktu pengerjaan antara 1,5 hingga maksimal dua tahun.
Langkah ini diambil sebagai solusi fundamental untuk memutus ketergantungan Indonesia terhadap produk impor. Amran menegaskan bahwa jika pabrik-pabrik ini sudah beroperasi, ketergantungan terhadap impor tepung telur dapat segera dihentikan. Hal ini diharapkan menjadi solusi permanen agar masalah pemasaran hasil peternakan yang sering kali merugikan peternak tidak lagi terus berulang di masa depan.
Terkait aspek teknis, pemerintah akan segera melakukan studi kelayakan (feasibility study) untuk memastikan pembangunan berjalan optimal. Dari sisi finansial, kebutuhan investasi awal diperkirakan mencapai Rp 200 miliar untuk setiap pabrik. Namun, angka tersebut berpotensi meningkat hingga Rp 250 miliar jika fasilitas tersebut juga mencakup pengolahan daging yang lebih kompleks.
Amran juga menekankan bahwa penguatan ekosistem ini akan memberikan dampak ekonomi yang luas bagi berbagai pihak. Petani jagung akan memiliki pasar yang pasti untuk hasil panennya sebagai bahan baku pakan, peternak akan mendapatkan kepastian pasokan pakan yang stabil, dan industri pengolahan akan menjadi penyerap utama saat terjadi surplus produksi telur maupun daging.
Dengan mengubah produk segar menjadi bentuk tepung, daya simpan hasil ternak akan menjadi jauh lebih lama. Hal ini sangat krusial untuk menjaga stabilitas harga di pasar. "Keuntungannya adalah meningkatkan kesejahteraan peternak, meminimalisir kerugian akibat fluktuasi harga, serta mengurangi pengeluaran devisa negara untuk impor. Ini adalah keputusan mendasar untuk membangun ekosistem peternakan yang terintegrasi," tutupnya.




