Strategi Baru Dorong UMKM Batik Banyuwangi

lahatsatu.com – Upaya memperkuat ekonomi kerakyatan berbasis budaya terus digalakkan di Jawa Timur. Kali ini, sinergi strategis antara Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan penyelenggaraan Banyuwangi

Agus sujarwo

Strategi Baru Dorong UMKM Batik Banyuwangi

lahatsatu.com – Upaya memperkuat ekonomi kerakyatan berbasis budaya terus digalakkan di Jawa Timur. Kali ini, sinergi strategis antara Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan penyelenggaraan Banyuwangi Batik Festival (BBF) menjadi sorotan utama. Kolaborasi ini tidak hanya bertujuan untuk melestarikan warisan leluhur, tetapi juga sebagai jembatan bagi para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk menembus pasar yang lebih luas melalui penguatan literasi keuangan.

Melalui integrasi dengan program Bulan Inklusi Keuangan (BIK), festival batik tahunan ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem usaha yang lebih sehat. Para perajin batik kini tidak hanya dituntut untuk mahir dalam menciptakan motif yang indah, tetapi juga harus cerdas dalam mengelola keuangan serta memanfaatkan layanan jasa keuangan digital guna memperluas jangkauan bisnis mereka.

Strategi Baru Dorong UMKM Batik Banyuwangi
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Kepala OJK Jember, Aris Budiman, menekankan bahwa keberhasilan industri kreatif seperti batik sangat bergantung pada keterlibatan banyak pihak. Menurutnya, proses produksi batik yang melibatkan kain, pewarna, dan bahan pendukung lainnya memiliki kemiripan filosofis dengan upaya peningkatan literasi keuangan. Keduanya membutuhkan dukungan kolektif, mulai dari pemerintah daerah, lembaga jasa keuangan, hingga masyarakat sebagai konsumen.

"Pengembangan industri batik memerlukan dukungan menyeluruh. Sama halnya dengan meningkatkan literasi keuangan, kita membutuhkan kolaborasi antara OJK, Bank Indonesia, lembaga jasa keuangan, hingga pemerintah daerah agar dampaknya terasa nyata bagi masyarakat, khususnya para perajin," ungkap Aris dalam keterangannya.

Senada dengan hal tersebut, Wakil Bupati Banyuwangi, Mujiono, menyatakan bahwa BBF telah bertransformasi menjadi ruang vital untuk menjaga keberlangsungan budaya sekaligus memperkuat fondasi ekonomi lokal. Festival ini menjadi wadah bertemunya para desainer fesyen, pedagang, perajin, hingga pelaku UMKM.

"Di satu sisi kita merayakan warisan budaya, namun di sisi lain kita sedang memperkuat ekonomi para pelaku usaha yang menghidupkan budaya tersebut. Kami berharap para perajin terus berinovasi, baik dalam desain maupun strategi pemasaran, termasuk mulai memanfaatkan layanan keuangan digital," jelas Mujiono.

Memasuki tahun ke-14 penyelenggaraannya, BBF yang digelar di Gedung Seni Budaya (Gesibu) Blambangan ini mengusung tema motif Sabuk Mangir Latar Ukel. Motif ini dipilih karena memiliki filosofi mendalam mengenai nilai-nilai kehidupan masyarakat Banyuwangi. Sebelumnya, festival ini telah sukses memperkenalkan berbagai motif ikonik seperti Gajah Oling, Kangkung Setingkes, hingga Wader Kesit kepada publik.

Rangkaian acara tahun ini pun sangat meriah, tidak hanya terbatas pada peragaan busana. Terdapat pula Financial Expo, Bazar UMKM, talk show literasi keuangan, hingga kompetisi desain batik. Melalui berbagai kegiatan ini, para pelaku usaha seperti Eca, salah satu peserta festival, berharap kekayaan batik Banyuwangi semakin dikenal luas dan kecintaan masyarakat terhadap produk lokal terus meningkat seiring dengan kemudahan akses modal dan pasar.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Klik Laporkan. Terima Kasih
Laporkan

Tags

Related Post

Tinggalkan komentar