lahatsatu.com – Masalah sampah perkotaan yang selama ini dianggap sebagai beban lingkungan, kini justru bertransformasi menjadi sumber energi yang sangat berharga. Melalui inovasi teknologi yang tepat guna, limbah rumah tangga tidak lagi sekadar menumpuk di tempat pembuangan akhir, melainkan diolah menjadi gas yang mampu menggerakkan roda ekonomi masyarakat setempat.
Fenomena menarik ini terjadi di Desa Energi Berdikari (DEB) TPAS Manggar, Balikpapan, Kalimantan Timur. Melalui inisiatif program Desa Energi Berdikari yang digagas oleh PT Pertamina (Persero), kawasan ini berhasil membuktikan bahwa pengelolaan sampah yang modern dapat memberikan dampak ekonomi langsung bagi warga sekitar. Tidak hanya membersihkan lingkungan, program ini juga menjadi solusi nyata dalam menghadapi ketergantungan masyarakat terhadap bahan bakar fosil.

Corporate Secretary PT Pertamina (Persero), Arya Dwi Paramita, mengungkapkan bahwa skala pengolahan sampah di lokasi tersebut sangatlah masif. Setiap harinya, sekitar 385 ton sampah perkotaan dikumpulkan dan diproses. Hasil dari pengolahan tersebut adalah produksi gas yang mencapai kapasitas luar biasa, yakni sekitar 583 ribu meter kubik per tahun.
"Yang sangat menarik adalah bagaimana mereka mampu menarik gas dari tumpukan sampah di TPA tersebut untuk kemudian dimanfaatkan oleh warga. Hasilnya sangat signifikan bagi kehidupan masyarakat di sekitar area tersebut," ujar Arya dalam sebuah diskusi di Jakarta, Kamis (5/11/2026).
Dampak dari keberhasilan teknologi ini langsung dirasakan oleh ratusan kepala keluarga. Tercatat, sebanyak 380 rumah tangga kini dapat menggunakan gas hasil olahan sampah ini sebagai pengganti LPG 3 kg. Tak hanya untuk kebutuhan rumah tangga, energi hijau ini juga menjadi tulang punggung bagi 29 pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di wilayah Manggar.
Arya menceritakan sebuah kisah inspiratif dari salah satu pelaku UMKM yang ia temui saat berkunjung ke Balikpapan. Sebelum adanya inovasi ini, pelaku usaha tersebut harus merogoh kocek cukup dalam untuk membeli gas subsidi. Ia mengaku bisa menghabiskan hingga 20 tabung LPG 3 kg setiap bulannya hanya untuk menunjang kegiatan produksinya.
Namun, setelah beralih menggunakan gas hasil olahan sampah, beban biaya operasional mereka menurun drastis. Para pelaku UMKM mengaku mendapatkan keuntungan yang lebih besar karena biaya bahan bakar yang jauh lebih ekonomis dibandingkan menggunakan LPG subsidi.
Keberhasilan di Manggar ini memberikan pesan kuat bahwa transisi energi menuju energi baru terbarukan (EBT) bisa dimulai dari tingkat desa. Selain membantu kemandirian energi masyarakat, langkah ini secara otomatis membantu pemerintah dalam mengurangi beban subsidi LPG 3 kg yang selama ini menjadi tantangan anggaran negara. Dengan beralih ke gas sampah, ketergantungan terhadap bahan bakar fosil dapat ditekan, sekaligus menciptakan ekosistem lingkungan yang lebih bersih dan berkelanjutan.




