Angka Pengangguran Turun Tapi Pekerja Informal Naik

lahatsatu.com – Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja merilis data terbaru mengenai kondisi ketenagakerjaan di Indonesia. Kabar baik datang dari angka Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT)

Agus sujarwo

Angka Pengangguran Turun Tapi Pekerja Informal Naik

lahatsatu.com – Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja merilis data terbaru mengenai kondisi ketenagakerjaan di Indonesia. Kabar baik datang dari angka Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) yang menunjukkan tren penurunan. Namun, di balik angka yang membaik tersebut, tersimpan fenomena yang cukup mengkhawatirkan terkait kualitas pekerjaan masyarakat Indonesia saat ini.

Berdasarkan data yang dirilis BPS, angka pengangguran pada Agustus 2026 berada di level 4,75 persen. Jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya, yakni Agustus 2025 yang mencapai 4,85 persen, terjadi penurunan sebesar 0,10 persen poin. Secara nominal, dari total angkatan kerja yang mencapai 155,37 juta orang, sebanyak 147,99 juta orang tercatat sudah memiliki pekerjaan, sementara 7,38 juta orang lainnya masih berstatus menganggur.

Angka Pengangguran Turun Tapi Pekerja Informal Naik
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Deputi Bidang Neraca dan Analis Statistik BPS, Edy Mahmud, menjelaskan bahwa meskipun angka pengangguran secara umum menurun, terdapat pergeseran struktur pekerjaan yang signifikan. Salah satu poin yang mencolok adalah penurunan jumlah pekerja di sektor formal. Pada Agustus 2026, persentase pekerja formal tercatat sebesar 42,07 persen, turun dibandingkan tahun lalu yang berada di angka 42,20 persen.

Sebaliknya, sektor informal justru menunjukkan tren peningkatan. Pekerjaan yang sifatnya tidak tetap atau tidak terikat kontrak formal, seperti pengemudi ojek online (ojol), pedagang kaki lima, hingga buruh kasar, kini semakin mendominasi pasar kerja. Persentase pekerja informal naik menjadi 57,93 persen dari sebelumnya 57,80 persen pada Agustus 2025. Hal ini mengindikasikan bahwa meskipun orang-orang sudah mulai bekerja, jenis pekerjaan yang mereka geluti cenderung kurang stabil.

Selain itu, dinamika gender juga menjadi sorotan dalam laporan ini. Edy menyebutkan bahwa penurunan tingkat pengangguran lebih banyak dirasakan oleh penduduk laki-laki. Sebaliknya, tingkat pengangguran di kalangan perempuan justru mengalami kenaikan dalam kurun waktu satu tahun terakhir.

Kondisi ketenagakerjaan ini semakin kompleks jika menilik dari kategori jam kerja. BPS membagi pekerja ke dalam tiga kelompok: pekerja penuh waktu (minimal 35 jam seminggu), pekerja paruh waktu, dan setengah pengangguran. Menariknya, kelompok "setengah pengangguran"—yaitu mereka yang bekerja kurang dari 35 jam seminggu namun masih mencari atau bersedia menerima pekerjaan tambahan—mengalami kenaikan. Angka ini melonjak menjadi 8,68 persen dari sebelumnya 7,91 persen pada tahun 2025.

Fenomena ini menggambarkan bahwa meskipun lapangan kerja tersedia, kualitas lapangan kerja tersebut masih menjadi tantangan besar. Banyak masyarakat yang terpaksa masuk ke sektor informal atau bekerja dengan jam kerja yang tidak menentu demi menyambung hidup, yang pada akhirnya berdampak pada stabilitas ekonomi jangka panjang bagi rumah tangga di Indonesia.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Klik Laporkan. Terima Kasih
Laporkan

Tags

Related Post

Tinggalkan komentar