lahatsatu.com – Lonjakan jumlah penumpang Commuter Line atau KRL Jabodetabek yang terus meroket memaksa PT Kereta Api Indonesia (Persero) untuk mengambil langkah cepat guna menjaga kualitas layanan. Menghadapi tantangan tersebut, manajemen KAI melontarkan usulan strategis untuk mendatangkan armada tambahan melalui skema impor kereta bekas dari Jepang.
Langkah ini bukan tanpa alasan. Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, mengungkapkan bahwa kebutuhan akan armada tambahan sangat mendesak demi menjembatani kesenjangan antara jumlah kereta yang tersedia dengan volume penumpang yang terus meningkat. Dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi VI DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Bobby menjelaskan bahwa pihaknya membutuhkan tambahan sebanyak 23 trainset untuk memperkuat operasional di wilayah Jabodetabek.

Menariknya, usulan ini tidak berfokus pada pengadaan unit baru, melainkan mencari unit bekas yang masih layak pakai dari Jepang. Strategi ini dianggap sebagai solusi jangka pendek atau bridging yang efektif untuk mengatasi kekurangan armada tanpa harus menunggu proses manufaktur unit baru yang memakan waktu lama.
Rincian kebutuhan armada tersebut dibagi menjadi dua jenis formasi yang berbeda. KAI merencanakan pengadaan 7 trainset dengan formasi 12 kereta (SF12) dan 16 trainset dengan formasi 8 kereta (SF8). Perbedaan formasi ini bukan sekadar angka, melainkan penyesuaian teknis terhadap kondisi infrastruktur di lapangan.
Bobby memaparkan bahwa tidak semua jalur atau stasiun di Jabodetabek memiliki panjang peron yang seragam. Sebagai contoh, pada jalur loop line yang menghubungkan Tanjung Priok menuju Kota, panjang peron stasiun cenderung terbatas. Jika KAI memaksakan menggunakan rangkaian SF12 di jalur tersebut, maka operasionalnya tidak akan berjalan optimal. Oleh karena itu, penggunaan formasi SF8 menjadi pilihan paling rasional untuk jalur-jalur dengan keterbatasan infrastruktur tersebut.
Urgensi penambahan armada ini didorong oleh data pertumbuhan penumpang yang sangat signifikan. Pada semester pertama tahun 2026, jumlah pengguna KRL tercatat mengalami kenaikan sebesar 11,3 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Saat ini, rata-rata pengguna KRL mencapai 1,1 juta orang per hari, bahkan pada jam-jam sibuk angkanya bisa menyentuh 1,3 juta penumpang.
Selain menghadapi lonjakan penumpang, KAI juga sedang berpacu dengan waktu untuk mengganti armada lama. Saat ini, banyak unit kereta yang sudah berusia di atas 40 tahun dan memerlukan peremajaan demi faktor keamanan dan kenyamanan.
Sebagai bagian dari rencana jangka panjang, KAI sebenarnya telah mengamankan kontrak pengadaan 27 rangkaian kereta baru sejak tahun 2024. Total gerbong yang dipesan mencapai 324 unit, yang terbagi dalam dua skema produksi: 11 rangkaian diimpor dari China melalui CRRC, dan 16 rangkaian lainnya diproduksi secara lokal oleh PT INKA. Hingga saat ini, sebanyak 18 rangkaian atau 216 kereta telah resmi beroperasi untuk melayani masyarakat.




