lahatsatu.com – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan komitmennya untuk memberantas praktik korupsi di lingkungan kementerian, termasuk keterlibatan dalam kasus dugaan mafia beras fortifikasi. Amran menyatakan pemerintah tidak akan pandang bulu dalam mengusut tuntas skandal yang merugikan masyarakat luas ini.
"Kami akan bertindak tegas. Bukan hanya para pelaku di luar, tetapi juga oknum di Kementerian Pertanian yang terlibat akan kami bersihkan. Doakan saja, kami akan bereskan semua," ujar Amran dalam sebuah konferensi pers di Jakarta belum lama ini.

Amran menjelaskan bahwa pemerintah telah menemukan modus peredaran beras yang diklaim sebagai beras fortifikasi, namun kualitasnya jauh dari standar. Beras fortifikasi seharusnya diperkaya dengan vitamin B dan B12 untuk membantu pencegahan stunting. Namun, setelah dilakukan uji laboratorium, 80 persen dari sampel yang beredar terbukti hanyalah beras biasa tanpa kandungan gizi tambahan yang dijanjikan.
Para pelaku keji ini menjual beras palsu tersebut dengan harga fantastis, berkisar antara Rp 22.000 hingga Rp 42.000 per kilogram. Padahal, harga beras biasa di pasaran umumnya hanya Rp 12.000 sampai Rp 13.000 per kilogram. Selisih harga yang mencapai puluhan ribu rupiah ini dinilai sebagai bentuk penjarahan hak-hak rakyat secara terang-terangan.
"Bayangkan, selisihnya bisa mencapai Rp 30.000 per kilogram. Ini sungguh kejam dan menzalimi rakyat kecil yang berharap mendapatkan nutrisi lebih baik," tegas Amran dengan nada geram.
Amran memastikan bahwa pihaknya bersama aparat penegak hukum akan mengambil langkah serius dalam satu hingga dua minggu ke depan. Ia menegaskan tidak akan ada toleransi bagi siapa pun yang menjadi beking atau pelindung bagi para mafia pangan di Republik Indonesia.
"Kami sudah melakukan pemeriksaan dan proses hukum sedang berjalan. Ini adalah perintah langsung dari Presiden. Tidak boleh ada pihak yang mempermainkan nasib rakyat banyak demi keuntungan pribadi," pungkas Amran, menekankan keseriusan pemerintah dalam menindak tegas para pelanggar.




