Singapura Borong Listrik Hijau dari Tetangga

lahatsatu.com – Negara tetangga Singapura tengah menyiapkan langkah besar dalam transformasi energi nasionalnya. Dalam upaya ambisius untuk menekan emisi karbon, Singapura berencana mengimpor pasokan listrik

Agus sujarwo

Singapura Borong Listrik Hijau dari Tetangga

lahatsatu.com – Negara tetangga Singapura tengah menyiapkan langkah besar dalam transformasi energi nasionalnya. Dalam upaya ambisius untuk menekan emisi karbon, Singapura berencana mengimpor pasokan listrik dalam skala masif, yakni sebesar 1,3 gigawatt (GW). Menariknya, sumber energi ini tidak akan berasal dari dalam negeri, melainkan akan didatangkan dari Vietnam melalui jalur transit di Malaysia.

Langkah strategis ini telah mendapatkan lampu hijau berupa persetujuan bersyarat dari Energy Market Authority (EMA), otoritas pengatur pasar energi di Singapura. Persetujuan tersebut diberikan kepada Sembcorp Utilities Pte Ltd (SCU), sebuah perusahaan penyedia layanan energi terkemuka di Singapura, untuk memimpin proyek impor listrik lintas negara ini. Jika seluruh rencana berjalan sesuai jadwal, pasokan listrik hijau ini ditargetkan mulai mengalir ke jaringan listrik Singapura pada tahun 2035 mendatang.

Singapura Borong Listrik Hijau dari Tetangga
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Proyek ambisius ini tidak dijalankan sendirian oleh Sembcorp. Untuk memastikan keberhasilan distribusi energi lintas batas, SCU telah membentuk sebuah konsorsium kuat yang dikenal sebagai MY Energy Consortium (MYEC). Konsorsium ini melibatkan raksasa-raksasa energi dari kawasan Asia Tenggara, di antaranya adalah Petronas dari Malaysia, Tenaga Nasional Berhad (TNB) yang juga merupakan perusahaan listrik milik Malaysia, serta PetroVietnam Technical Services Corporation (PTSC) dari Vietnam.

Kolaborasi lintas negara ini akan mengusung konsep energi bersih yang ramah lingkungan. Listrik yang nantinya akan dikonsumsi oleh warga dan industri di Singapura merupakan listrik rendah karbon. Sumber utamanya berasal dari pemanfaatan potensi alam yang melimpah di kawasan tersebut, yakni tenaga angin lepas pantai (offshore wind) dari Vietnam dan energi surya (solar power) yang dihasilkan di Malaysia.

Menurut keterangan resmi dari EMA, perjalanan menuju tahun 2035 masih akan melalui berbagai tahapan krusial. Dalam beberapa tahun ke depan, konsorsium MYEC akan fokus pada pengembangan proyek secara teknis. Hal ini mencakup pengurusan berbagai izin resmi dari otoritas di masing-masing negara, penyelesaian perjanjian jual beli listrik atau Power Purchase Agreement (PPA) dengan pembeli, hingga memastikan ketersediaan pendanaan yang cukup untuk membangun infrastruktur pendukung.

Strategi impor listrik hijau ini merupakan bagian integral dari peta jalan Singapura untuk mencapai target dekarbonisasi di sektor ketenagalistrikan. Mengingat keterbatasan lahan untuk membangun pembangkit energi terbarukan di dalam negeri, Singapura memilih untuk menjalin kerja sama regional guna mengamankan pasokan energi bersih.

Hingga saat ini, EMA dilaporkan telah memberikan persetujuan dan lisensi bersyarat kepada sejumlah proyek impor listrik lainnya yang berasal dari berbagai negara tetangga, termasuk Australia, Kamboja, Indonesia, Malaysia, dan Vietnam. EMA menegaskan akan terus membuka ruang komunikasi bagi perusahaan-perusahaan yang memiliki proposal proyek kredibel, layak secara komersial, dan yang terpenting, mampu berkontribusi nyata dalam pengurangan emisi karbon di Singapura.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Klik Laporkan. Terima Kasih
Laporkan

Tags

Related Post

Tinggalkan komentar